Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Dari Hobi Jadi Profesi

Ardi Teristi Hardi/M-4
15/7/2018 04:15
Dari Hobi Jadi Profesi
(MI/Pius Erlangga)

ALUNAN komposisi-komposisi orkestra kembali terdengar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (11/7) malam. Tidak seperti biasanya, beberapa pejabat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), termasuk ketuanya, Triawan Munaf, tampak hadir.

Beberapa komposisi, dari Wolfgang Amadeus Mozart, Muchael Asmara, Christoph Willibald Gluck, Gustav Mahler, hingga Richard Strauss berhasil membuat penonton berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah saat karangan bunga diserahkan kepada beberapa perwakilan penampil.

Karena melihat antusiasme penonton, tanpa pikir panjang, sang pengaba, Budi Utomo Prabowo, memberikan isyarat kepada musisi untuk memberikan satu lagu tambahan. Sebuah komposisi Di Bawah Sinar Bulan Purnama pun melantun dengan indah sebagai penutup konser Jakarta City Philharmonic pada malam itu.

Konser Jakarta City Philharmonic (JCP) memang sudah rutin digelar di Taman Ismail Marzuki sejak 2016. Ada salah satu sosok yang lekat dengan konser ini sejak pertama kali digelar hingga sekarang. Dia sang pengaba JCP, Budi Utomo Prabowo, yang juga menjadi salah satu penggagas lahirnya JCP.

Sebagai pengaba, Mas Tom--demikian ia biasa dipanggil--mengaku senang dengan antusiasme penonton terhadap musik orkestra. Penonton selalu penuh menghadiri setiap konser yang diadakan JCP.

Budi dikenal sebagai praktisi dan pedagog musik dengan pengalaman nasional dan internasional. Pendidikan musik formalnya ditempuh di Universitas Musik Detmold dan Freiburg, Jerman, hingga mendapat gelar master of performing arts.

Selain itu, ia pernah menimba ilmu di sekolah musik Juilliard di New York sebagai pianis serta di Canford School of Music di Inggris dan Universitas Mozarteum di Salzburg sebagai pengaba dan instrumen periodik.

Mas Tom mengaku telah jatuh cinta pada musik orkestra sejak lama. "Bagi saya, musik orkestra salah satu bentuk karya bersama ciptaan manusia yang hanya bisa dibuat kalau banyak orang berkumpul," kata dia.

Dalam sebuah orkestra, sebutnya, anggota tidak bisa bermain semaunya sendiri, harus menjaga tempo dan harmonisasi dengan anggota orkestra yang lain. Dalam orkestra, kita belajar tidak selalu tampil di depan (menonjol), tetapi juga menjadi penopang.

Sebagai pengaba, Mas Tom mengatakan, tugasnya menyatukan wawasan demi menentukan arah komposisi yang akan dimainkan. Dengan pengaba, semua anggota orkestra harus menurut dengan instruksi pengaba.

Walau lama berkarier di jalur musik, Mas Tom ternyata lulusan jurusan teknik nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Master of Information Science New Jersey Institute of Technology, AS.

"Tadinya, saya menempatkan musik sebagai hobi saja, tapi setelah itu malah makin ingin dijadikan profesi," kata laki-laki kelahiran Semarang itu.

Ia tercatat sebagai anggota Komite Musik di Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2016 lalu. Kini ia aktif sebagai pembimbing pengaba-pengaba muda di sanggar musik Musicasa, Jakarta.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya