Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
JARUM penunjuk arah berwarna merah pada kompas harus di arahkan ke utara, kemudian ia berputar ke arah indeks kota. "Indeks kota Bogor ada pada 75, jadi kita harus arahkan jarumnya ke angka 75 pada kompas," jelas Roffifah Yusriah Putri kepada Medi, Rabu (8/11) Kawan Rofi , Annisa Ramadhani Fakhurahman membantu menyalakan laser warna hijau tepat di atas kompas tersebut.
"Lasernya memang ditempatkan secara miring pada kayu di atas kompas agar cahayanya memantul pada bidang bawah hingga menyorot panjang," lanjut Anissa.
Dua siswa kelas 6 Sekolah Islam Terpadu Insantama yang masing-masing akrab dipanggil Rofi dan Annisa itu memang sedang menjelaskan cara kerja Shaf Laser buatan mereka. Kira-kira apa ya itu? Ada yang bisa menduganya?
Salat berjemaah
Salat berjemaah memang salah satu ibadah umat muslim yang baik dilakukan karena mendapatkan pahala berkali-kali lipat. Dalam salat berjemaah, muslim diwajibkan meluruskan dan merapatkan saf (barisan) salat. Nah, alasan inilah yang membuat Rofi dan Annisa terinspirasi membuat alat ini.
"Selama ini jika melaksanakan salat di kelas, saf yang dibuat susah lurusnya. Biasanya petanda untuk meluruskan agar menghadap kiblat yang benar kan pakai cat atau lakban. Kalau sudah lama kan jadinya jelek, jadi kami berpikir untuk membuat alat ini," kata Rofi . Apalagi, sekolah ini punya tradisi atau kebiasaan salat bersama di lapangan atau depan kelas mereka secara bersama-sama. Seperti terakhir menggelar salat berjemaah ketika salah satu guru mereka meninggal.
Kompas dan laser
Penelitian yang dibimbing bapak dan ibu guru, Pak Fajar Adi Nugroho dn Bu Sri Ratna Dewi ini memakai kompas sebagai arah kiblat dan laser untuk penandanya. Lasernya bisa menyinari hingga belasan meter lo sobat. Tenang, lasernya ini tidak akan bahaya terkena mata karena lasernya menyorot lantai kok sobat. Laser yang ditempatkan pada kayu di atas kompas dengan kemiringan tertentu ini memantulkan cahayanya ke lantai lalu menyinari secara horizontal sepanjang lantai tersebut. Sinar laser ini dijadikan tanda lurusnya saf pada ujung kaki. Tapi tahukah sobat, penelitian ini pun bukan tanpa kendala. Mereka membuat dengan beberapa tahapan perbaikan.
"Awalnya kami pakai styrofoam untuk penyangga kompas dan lasernya, tapi nggak begitu kuat," kata Annisa. Mereka pun menggantinya dengan kayu, dengan bantuan guru pembimbingnya. Mereka mengaku tak kesulitan mencari bahannya, kompas dan laser di toko daring. Sementara itu, kayu dimodifi kasi dosen pembimbing.
"Dari ide hingga menyelesaikan alat ini dilakukan selama 3 bulan," kata Rofi . Rofi pun mengaku pengerjaan alat ini hanya butuh modal Rp200 ribu.
Menang penghargaan
Alat yang diusung dua siswa ini dimulai sejak Februari 2017 dan mengusulkan ke kompetisi Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2017 akhir Juli 2017 lalu. Rupanya materi penelitian Shaf Laser terpilih menjadi fi nalis KJSA beserta 17 peserta.
Mereka berhasil terpilih dari materi penelitian sebanyak 1.130 makalah dari 26 provinsi. Keren ya sobat! Shaf Laser ini pun mendapat penghargaan sebagai Juara Peneliti Terunggul Kalbe Junior Scient i s t Award 2017 loh. Tak hanya itu, alat ini pun mendapatkan penghargaan karya peneliti remaja paling potensial (most promising young scientist) saat Penganugerahan Penghargaan Indonesia Youth Science Fair (IYSF) 2017 di Balai Kartini.
"Enggak nyangka bisa menang karena saingannya banyak yang sudah SMP, SMA bahkan kuliah," kata Annisa. Ya meskipun sederhana, alat ini sangat efektif dan membantu banyak orang meluruskan safnya sesuai arah kiblat, di mana pun. Annisa mengaku memang ingin punya rencana memproduksi dan menjualnya, tapi belum tahu kapan dan seperti apa ke depannya. Semoga alat ini bisa bermanfaat bagi banyak orang ya sobat! (Suryani Wandari/M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved