Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEGARNYA kuah tengkleng yang ringan nan kaya rasa, dengan potongan daging tanpa aroma prengus, tetapi tetap eksis dengan identitas kambingnya, memenuhi benak saya ketika memasuki kawasan Tangerang, Banten. Sementara itu, kawan seperjalanan konsisten untuk berburu Bebek Sinjay yang lazim diperjuangkan hingga melewati Jembatan Suramadu karena letaknya di Bangkalan, Pulau Madura.
Saat memasuki kawasan Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, kehebohan mulai terasa. Semangat dan antusiasme pecinta kuliner di arena Festival Jajanan Bango (FJB) yang memasuki tahun ke-12 digelar 6-7 Mei.
Senyum, celotehan, obrolan hangat, dan tentunya aroma-aroma sedap masakan autentik yang resepnya diturunkan antargenerasi, menguar sedap, menyenangkan. Para pecinta masakan Nusantara, yang sebagian berkategori militan, bertukar sapa dengan sang penjaja. Mereka melepas rindu dengan menjumpai Tengkleng Bu Edi, Bebek Sinjay, atau Pempek Megaria di satu tempat sekaligus.
Kerinduan pada Tengkleng Bu Edi pun saya tuntaskan. Seperti yang biasa dilakukan ketika bersantap di warungnya, di samping tugu Pasar Klewer Solo, Jawa Tengah, saya sedikit melumatkan rawit besar merahnya, mencampurkannya sedikit dengan kuah. Potongan daging yang sebagian masih membalut tulang serta kuas segar nan pedas itu memvalidasi, kekayaan, dan kenikmatan kuliner Nusantara memang tiada dua.
Para legenda
Sementara kawan menikmati Bebek Sinjay nan legendaris. Penjelajahan saya berikutnya adalah Bantul, Yogyakarta. Ada sambel welut Pak Sabar yang kini berusia lebih dari dua dekade, tidak elok jika dilewatkan.
Sambel welut dengan daging belut yang telah digoreng pas, tidak terlamp aualot, dilumat dengan rawit, dan tentunya kencur segar. Aroma segarnya segera menguar. Kawannya, potongan mentimum dan daun kemangi. Pedas, harum, gurih membuat nasi putih dan sambel welutnya tandas sekaligus.
Legenda lainnya yang saya sambangi, Warung Tongseng dan Sate Sederhana Pak Budi. Resep yang dilestarikan Senen Riyanto, sang pendiri, selama lebih dari seperempat abad itu pada hari-hari biasa, bisa ditemui di Pondok Bambu, Jakarta Timur dan Bekasi Timur, Jawa Barat. Di festival ini, sedapnya tongseng favorit saya, dengan kekentalan yang pas ditambah intervensi dari kecap manis, menyapa rasa dan raga.
“Kami berharap festival ini dapat menjadi katalisator yang kuat untuk memulai komitmen bersama melestarikan warisan kuliner. Festival ini juga kami persembahkan sebagai bentuk penghargaan kepada para penjaja kuliner yang telah sepenuh hati melestarikan kuliner khas Nusantara,” kata Hernie Raharja, Direktur Foods PT Unilever Indonesia Tbk.
Rasa sepanjang masa Komitmen itu berwujud kurasi serius pada keragaman kuliner autentik yang ditampilkan. Tradisi dapur itu menjadi penanda, alam pun kultur Nusantara begitu kaya.
Nusantara yang dihadirkan dari barat, tengah, hingga timur itu berwujud 70 penjaja. Mereka tidak semata memasak, tapi merawat rasa Indonesia. Ada Ayam Tangkap Atjeh Rayeuk, Kedai Es Pisang Ijo Pemuda, Rujak Cingur Sedati hingga Tata Ribs Mamink Daeng.
Rasa Sepanjang Masa, tema yang diangkat tahun ini, tak hanya dihadiri wajah-wajah baru, tetapi juga berbagai bisnis rintisan makanan berbasis internet. Ada Klappertart Online, serta aneka start up kuliner lainnya. Saya mencicipi kreasi Achmad Maemun, pendiri Sate Beureum Mang Soleh, Bogor, Jawa Barat.
Berawal dari layanan antarberbasis internet, warung satai miliknya terwujud di dunia nyata. Bahkan menambah khazanah kuliner warga Bogor. “Saya mulai dua tahun lalu, yang bedain dengan satai lain, bumbu khas merah ini, yang saya buat dengan aneka bumbu dan rempah. Pilihannya, daging sapi dan ayam,” ujar Achmad.
Di sela kesibukan berburu, sambil mengagendakan kunjungan ke Pempek Megaria, saya menjelajah area Jejak Kuliner Nusantara, menikmati instalasi mengenai perjalanan rempah, bumbu, hingga buku-buku resep jadoel. Di sini, kita diingatkan untuk terus menempatkan kuliner, kultur, hasil alam serta kreasi manusia untuk mengolahnya di tempat yang terhormat.
Pempek pun yang lazimnya harus saya pesan menggunakan jasa ojek aplikasi, di sini usai mengantri kurang dari 10 menit. Tak hanya itu sayajuga bisa menikmati aktraksi memasak Koki Gerry Girianza yang sebelumnya dengan santai melewati saya, sembari membawa kotak plastik besar berisi bahan-bahan masakannya.
Ya, karena masakan Indonesia itu sedap, kaya tradisi juga teramat layak dipraktikan di dapur-dapur kaum urban. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved