Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, jasad seorang pria yang terawetkan secara alami di Gurun Atacama, Chili, menyimpan tanda tanya besar. Mumi yang diperkirakan berusia sekitar 1.100 tahun itu ditemukan di dekat tambang turkis kuno.
Awalnya, para arkeolog hanya bisa menebak-nebak penyebab kematian mumi. Kini, teknologi medis modern memberi jawaban yang cukup tegas: pria itu tewas akibat kecelakaan kerja di tambang.
Kesimpulan tersebut datang dari tim peneliti internasional yang memanfaatkan CT scan dan analisis osteologi untuk memeriksa kondisi tulang mumi tanpa merusak jaringan tubuhnya. Hasilnya menunjukkan pola cedera yang tidak bisa dianggap sepele.
Pemindaian CT mengungkap adanya patah tulang serius di beberapa bagian tubuh, termasuk tulang belakang bagian atas, tulang rusuk, tulang belikat, dan tulang selangka. Yang penting, semua cedera itu tidak menunjukkan tanda penyembuhan. Artinya, trauma tersebut terjadi sangat dekat dengan waktu kematian.
Para ilmuwan menilai cedera ini konsisten dengan benturan kuat dari arah atas atau belakang. Pola semacam ini umum terjadi pada korban runtuhan batu, terutama di ruang sempit seperti terowongan tambang. Tidak ditemukan luka fatal pada tengkorak atau leher, yang memperkuat dugaan bahwa posisi tubuh korban saat kejadian tidak berdiri tegak.
Selama ini, kematian mumi kuno sering dikaitkan dengan penyakit, kekerasan, atau ritual keagamaan. Namun dalam kasus ini, bukti fisik tidak mengarah ke sana. Lokasi penemuan jasad, yang berdekatan dengan tambang turkis prasejarah, menjadi konteks penting.
Turkis adalah material bernilai tinggi di wilayah Andes pada masa itu. Penambangan dilakukan dengan alat sederhana dan nyaris tanpa sistem penyangga yang aman. Jika atap terowongan runtuh, peluang selamat sangat kecil. Para peneliti menyimpulkan bahwa pria ini kemungkinan sedang bekerja saat bongkahan batu besar menimpa tubuhnya.
Penanggalan radiokarbon menunjukkan pria tersebut hidup antara tahun 894 hingga 1016 Masehi. Ia diperkirakan berusia 25 hingga 40 tahun saat meninggal. Temuan ini memberi gambaran konkret tentang risiko yang dihadapi pekerja biasa di masa lalu, jauh dari narasi megah kerajaan dan elite politik.
Penelitian ini tidak hanya menjawab satu misteri kematian, tetapi juga membuka jendela ke realitas sosial dan ekonomi masyarakat kuno. Di balik artefak dan mumi yang kita kagumi di museum, ada kisah kerja keras dan bahaya nyata yang dihadapi manusia ribuan tahun lalu.
Sumber: Live Science, All That’s Interesting
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved