Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR keamanan siber Doktor Pratama Persadha menilai Facebook, Instagram, dan Google jauh lebih berbahaya bagi privasi warganet ketimbang FaceApp. Dia mencontohkan kasus cambridge analytica yang sempat ramai.
"Namun, untuk meminimalisasi potensi bahayanya, sebaiknya orang-orang penting tidak menggunakan aplikasi ini," kata Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (Communication and Information System Security Research Center/CISSReC), Sabtu (20/7).
Ia menyebut di beberapa negara terdapat imbauan khusus kepada para pejabat atau anggota militer untuk tidak menggunakan media sosial dan aplikasi serupa.
Bahkan, banyak instansi pemerintah terkait pertahanan yang smartphone-nya tidak dilengkapi kamera sama sekali.
"Hikmah dari peristiwa ini adalah masyarakat jadi mulai mengikuti isu keamanan data pribadi. Bahwa sebenarnya memakai smartphone juga berarti mengekspos privasi kita," kata Pratama ketika merespons ramainya jagat media sosial dengan unggahan foto perbandingan wajah tua dan muda warganet.
Wajah tua tersebut terlihat sangat autentik dan mirip dengan wajah asli. Umumnya para pemilik foto menyunting foto mereka menggunakan aplikasi bernama FaceApp.
Baca juga: Senator AS Serukan Investigasi Aplikasi FaceApp
Namun, di tengah hiruk pikuk penggunaan FaceApp, merebak isu terkait dengan keamanan privasi pengguna. Pasalnya, FaceApp ternyata bisa saja menyebarkan, menyimpan, bahkan menjual foto pengguna untuk tujuan komersial meski foto tersebut telah dihapus.
Tidak hanya itu, menurut para politikus Partai Demokrat di AS, FaceApp akan digunakan sebagai alat untuk mengganggu pemilu presiden di AS pada 2020.
Menurut Pratama Persadha, ada beberapa klausul tentang kepemilikan foto yang dikaitkan dengan keamanan privasi penggunanya.
"Secara umum, sebenarnya apa yang dituangkan di dalam ketentuan FaceApp adalah hal yang biasa dan banyak dilakukan aplikasi lainnya. Misalnya, permintaan untuk mengakses kamera ataupun kontak penggunanya," kata Pratama.
Untuk itu, lanjut Pratama, pengguna harus berhati-hati dan membaca ketentuan-ketentuan yang ada secara menyeluruh sebelum menggunakan aplikasi.
Tidak hanya FaceApp, tetapi juga layanan aplikasi lainnya yang akan digunakan. Namun, bagian ketentuan tersebut biasanya diabaikan pengguna dan cenderung buru-buru untuk menyetujuinya.
Dalam konteks ini, lanjut dia, FaceApp adalah aplikasi gratis yang tentunya membutuhkan pemasukan. Salah satunya mungkin dengan menjual foto pengguna untuk tujuan komersial.
FaceApp juga sudah memberikan klarifikasi foto yang di-upload ke server mereka berguna untuk proses editing.
"Jadi, memang editing-nya berada di cloud, bukan di smartphone. Itu sebabnya FaceApp harus digunakan dengan koneksi internet. FaceApp hanya mengirimkan foto yang akan diedit ke server mereka," kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.
Pratama menyebut peneliti siber asal Prancis Baptiste Robert telah mengecek keamanan larinya foto-foto yang di-upload ke FaceApp.
Semua foto dikirim ke server FaceApp. Server tersebut bukan di Rusia, melainkan di data center milik Amazon. Hal ini sekaligus menjawab kekhawatiran terhadap penggunaan FaceApp.
Bahkan, FaceApp memberikan fitur khusus bila penggunanya ingin fotonya dihapus permanen dari servernya. FaceApp sendiri selalu menghapus foto setelah 48 jam. Hal ini, kata Pratama, untuk mengurangi beban data center-nya.
"FaceApp juga tidak mengambil foto yang ada di smartphone warganet, seperti isu yang santer diberitakan," kata dosen Etnografi Dunia Maya pada Program Studi S-2 Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu. (OL-2)
Mark Zuckerberg bersaksi di pengadilan Los Angeles terkait keamanan Instagram bagi remaja. Terungkap dokumen internal soal efek negatif filter kecantikan dan data pengguna di bawah umur.
Mark Zuckerberg berhadapan dengan juri dalam sidang perdana gugatan kecanduan media sosial. Dokumen internal mengungkap strategi Meta dalam menjaring pengguna remaja.
Mark Zuckerberg akhirnya bersaksi di depan juri terkait gugatan kecanduan media sosial. Dokumen internal mengungkap jutaan anak di bawah umur bebas akses Instagram.
Instagram resmi menguji fitur Short Drama untuk menyaingi TikTok. Simak analisis mendalam fitur drama pendek vertikal dan potensi monetisasinya di sini
Sebelum meninggal di usia 48 tahun, James Van Der Beek meninggalkan pesan menyentuh tentang cinta dan keluarga di Instagram.
Sidang perdana kasus kecanduan media sosial dimulai di California. Meta dan YouTube dituduh sengaja merancang platform yang merusak otak anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved