Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
Berdasarkan penelitian terbaru, wilayah Eropa pada 2016 dan awal 2017 dilanda banjir terparah dalam 35 tahun terakhir. Penelitian tersebut dirilis perusahaan reasuransi terbesar dunia, Munich re.
Perubahan iklim yang terjadi belakangan diklaim menyebabkan perubahan pada banjir di Eropa. Hal tersebut terlihat dari membesarnya volume air di sebagian sungai menjadi lebih cepat dan sebagian lain lebih lambat. Fenomena tersebut berdampak pada pertanian dan kehidupan di kawasan tersebut.
Hasil itu merupakan laporan dari penelitian yang dipimpin Prof Guen-ter Bloeschl dari Institute of Hydraulic Engineering and Water Resources Management di TU Wien. Proyek penelitian yang bertaraf internasional tersebut menganalisis data 50 tahun lebih dari empat ribu stasiun hidrometri di 38 negara di Eropa. Data tersebut yang terbesar yang pernah dikumpulkan saat ini.
Dalam publikasinya pada US Journal Science, penelitian tersebut menyatakan perubahan iklim memang berdampak nyata pada perubahan waktu terjadinya banjir di beberapa daerah di Eropa.
Bloeschl menyatakan di wilayah timur laut Eropa, Swedia, Finlandia, dan Baltik, banjir biasanya terjadi pada bulan April seperti kecenderungan pada 1960-an dan 1970an. Namun, saat ini terjadi sebulan lebih cepat. Hal tersebut disebabkan salju mencair lebih cepat dari biasanya.
Di sepanjang pantai Atlantik di Eropa Barat banjir musim dingin juga datang lebih cepat. Jika biasanya kecenderungan terjadi pada musim gugur, saat ini bisa terjadi pada awal tahun karena tingkat kelembapan tanah maksimum tercapai di awal tahun.
Ketika di wilayah lain banjir datang lebih cepat, sebaliknya di beberapa bagian utara Inggris, Irlandia Barat, pesisir Skandinavia, dan Jerman bagian utara justru mengalami banjir yang lebih lambat sekitar dua minggu dibanding kecenderungan biasanya.
“Waktu terjadinya banjir di seluruh Eropa selama bertahun-tahun memberi kita jalan yang sangat sensitif untuk mengartikan penyebab banjir, dengan demikian kita dapat mengidentifikasi hubungan yang sebelumnya bersifat spekulatif,” ujar Bloeschl.
Meskipun demikian, pemimpin penelitian tersebut menyatakan besar atau tidaknya banjir tersebut bukan menjadi karakteristik yang paling sensitif untuk mendeteksi dampak dari perubahan iklim karena hal tersebut tidak hanya bergantung pada iklim.
Faktor lain yang bisa berpengaruh seperti perubahan fungsi lahan akibat urbanisasi, mengintensifkan pertanian, dan penggundulan hutan.
Hasil yang didapat pada penelitian tersebut didapat setelah Bloeschl mendapat penghargaan ERC Advanced Grant pada 2012. Dari hasil tersebut memungkinkan dirinya untuk membangun banyak kerja sama internasional di seluruh Eropa terkait penelitian iklim dan banjir. (AFP/Science Daily/Hnf/L-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved