Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Nasib Mourinho Bergantung pada Klopp

Berbagai sumber/Ash/R-3
31/10/2015 00:00
Nasib Mourinho Bergantung pada Klopp
(AP/AFP)
SEJAK awal kedatangannya di Liga Primer, Juergen Klopp sudah dibanding-bandingkan dengan Jose Mourinho.

Bukan karena terdapat banyak kesamaan antara keduanya, melainkan justru suksesor Brendan Rodgers itu bak antitesis dari sang pelatih Chelsea.

Masih segar dalam ingatan ketika nama Klopp dihubung-hubungkan sebagai generasi berikutnya dari Mou.

Pada 2013, eks juru taktik Borussia Dortmund itu merupakan kandidat kuat pengganti the Special One di Real Madrid, tapi Klopp menampik tawaran itu.

Ia tidak ingin menangani tim yang terlalu kaya hingga bisa membeli semua pemain yang mereka inginkan.

Klopp lebih suka membangun tim medioker, seperti Dortmund yang menjadi peta kekuatan baru sepak bola Eropa yang tidak diduga sebelumnya.

Musim 2012-13 merupakan bukti bahwa kecerdikan pria berusia 48 tahun itu bisa menumbangkan rezim uang Real Madrid yang ketika itu diasuh Mourinho.

Tak kurang dari empat kali kedua tim bertemu di Liga Champions, dua di fase grup dan dua leg di semifinal.

Total tim Klopp jika harganya dibanderol masih lebih murah ketimbang nominal yang dikeluarkan Los Blancos untuk membeli Cristiano Ronaldo seorang.

Namun, mereka membuktikan uang bukan segalanya dengan membungkus kemenangan dua kali, imbang sekali, dan hanya sekali kalah.

Dortmund bahkan sudah mampu unjuk gigi di pertemuan pertama di Westfalenstadion dengan menang 2-1.

Mereka pun tak terkalahkan di lawatan ke Bernabeu dengan mencuri satu poin berkat imbang 2-2.

Namun, kehebatan Klopp baru diakui ketika keduanya bertemu di semifinal ketika tim kuning-hitam itu menyingkirkan Madrid dengan agregat 4-3.

Di leg satu, Marco Reus dkk bahkan membantai tim termahal dunia itu dengan skor 4-1 meski akhirnya kalah 0-2 di pertemuan kedua.

Keberhasilan itu bukan kebetulan karena Klopp memang sudah menganalisis permainan anak-anak Mou dengan saksama.

Ketika itu, pria berkaca mata tersebut menyimpulkan bahwa Madrid hanya kuat di serangan balik dan miskin kreasi justru ketika diberi inisiatif menyerang.

"Mereka memang menguasai lebih banyak bola dan itu bukan hal yang buruk bagi kami," sindirnya kala itu.

Kekalahan di Jerman rupanya menguatkan sinyal kepergian Mou dari ibu kota Spanyol.

Pasalnya, setelah itu, ia tak segan menyalahkan timnya sendiri karena tak mampu 'menyentuh' Robert Lewandowski yang mencetak empat gol.

"Tim saya sangat naif, bahkan ketika Lewandowski mencetak empat gol, kami tidak mampu menekelnya," kata Mou.

Kalimat itu langsung dibalas bek senior Sergio Ramos.

"Mungkin akan lebih mudah menekelnya jika tidak ada ancaman bagi kami untuk diganjar penalti," balas Ramos.

Sejak saat itu, hubungan Mou dengan anak-anak asuhnya tak lagi sama. Tak lama berselang, tepatnya di akhir musim, Mourinho benar-benar keluar dari Madrid.

Dua tahun kemudian, the Happy One kembali akan bertemu dengan musuh lamanya itu.

Jika kembali kalah, plus situasi psikologis Mou yang tengah labil ditambah rumor memanasnya ruang ganti, bukan tidak mungkin Mou akan menyalahkan pemain lagi.

Seperti yang terjadi di Madrid, hal itu bisa jadi awal gelaran karpetnya menuju pintu keluar Stamford Bridge.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya