Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Muenchen Layak Juara

Akmal Fauzi
25/8/2020 00:10
Muenchen Layak Juara
Pemain Bayern Muenchen mengangkat piala seusai memastikan kemenangan di babak fi nal Liga Champions, kemarin(AFP)

LIGA Champions musim ini dipastikan akan dikenang sebagai yang paling aneh bagi Bayern Muenchen sepanjang mereka mengikuti turnamen tersebut. 

Tidak biasa tentu lantaran kerap bermain di laga tanpa kehadiran penonton akibat adanya wabah covid-19. Namun, rasa aneh akhirnya mampu ditutupi Muenchen dengan kegembiraan setelah mereka berhasil menjadi juara berkat menang 1-0 atas Paris Saint-Germain (PSG), kemarin WIB, di babak final di Estadio da Luz, Portugal.

Seusai menyelesaikan perjalanan sejak tahun lalu, Muenchen memang layak menjadi juara karena trofi ‘si Kuping Lebar’ diraih dengan hasil sempurna. Robert Lewandowski dkk selalu meraih kemenangan dari fase grup hingga partai final.

Ada total 11 pertandingan tanpa kalah dengan catatan 43 gol dan hanya kebobolan delapan kali. Die Roten menjadi tim pertama yang mampu meraih gelar juara dengan kemenangan 100%. 

Di partai final, mereka tampil lebih baik dan beruntung. Hasilnya berbuah gelar keenam bagi Muenchen di Liga Champions. Enam gelar tersebut membuat Muenchen menyamai jumlah gelar yang didapat Liverpool selama ini.

Wajah-wajah senior seperti Manuel Neuer, Jerome Boateng, David Alba, dan Thomas Mueller akhirnya kali ini bisa kembali merasakan nikmatnya mengangkat trofi seperti terakhir kali pada 2013 walau, lagi-lagi, tidak disertai riuh para penggemar.

“Saat-saat ini yang Anda impikan. Sejujurnya saya tidak percaya memenangi Liga Champions,” kata Alphonso Davies, bek muda Muenchen yang masih berusia 19 tahun.

Bagi pelatih Muenchen HansiFlick, hasil yang didapat pasti sangat memuaskan untuk dirinya. Tim asuhan Flick seperti diketahui tidak diperhitungkan sama sekali karena sempat menuai hasil buruk di Bundesliga.

Muenchen langsung memecat Niko Kovac November tahun lalu dan mengangkat asisten pelatih Flick menjadi pelatih kepala. Pelan tapi pasti, Flick membungkam semua orang yang meragukannya. Dari 36 laga bersama Muenchen, Flick berhasil mempersembahkan 33 kemenangan.

Sebaliknya bagi PSG, kekalahan dari Bayern membuat timnya gagal meraih gelar pertama di Liga Champions. Namun, pelatih PSG Thomas Tuchel merasa bangga terhadap pasukannya. Baginya, mereka hanya kurang mampu menciptakan gol pembuka untuk bisa memenangi pertandingan.


Tunggu lebih lama

Cerita akan berbeda jika PSG mampu memaksimalkan peluang untuk membuka gol pertama. 

Namun, rupanya Les Parisiens harus menunggu lebih lama untuk menyamai prestasi Marseille yang hingga kini menjadi satu-satunya tim Prancis yang mampu meraih trofi. Marseille menjadi juara Eropa pada musim 1992/1993.

“Kami memberikan segenap kemampuan kami di lapangan. Anda mengharapkan itu dari tim Anda, tetapi Anda tidak bisa mengontrol hasilnya,” kata Tuchel.

PSG sebenarnya bermain agresif pada awal babak pertama. Neymar dkk sempat membuat Muenchen tak bisa mengembangkan permainan. Namun, Neuer masih sigap dengan berbagai serangan PSG.

Respons datang dari Muenchen. Lewandowski yang sudah mencetak 15 gol hingga semifinal Liga Champions mengirim tembakan datar ke sudut bawah gawang. Namun, bola mengenai tiang. Skor imbang 0-0 tak berubah hingga babak pertama selesai.

Di babak kedua, permainan kolektif Muenchen membuat mereka unggul di menit 59. Umpan lambung Joshua Kimmich dapat dimanfaatkan Kingsley Coman melalui sundulan yang jadi satu-satunya gol hingga akhir laga. (AFP/R-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya