Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Bukti Kualitas Niko Kovac

Satria Sakti Utama
20/5/2018 10:02
Bukti Kualitas Niko Kovac
(AFP/ARNE DEDERT)

NIKO Kovac memberikan kado perpisahan yang teramat manis kepada timnya Eintracht Frankfurt. Gelar Piala Jerman dipersembahkan pelatih asal Kroasia ini usai berhasil menaklukan tim raksasa Bayen Munchen 3-1 di Olympiastadium Berlin, Minggu (20/5) dini hari.

Gelar ini bagi Die Adler--julukan Frankfurt-- ialah suatu kebanggaan besar. Pasalnya klub yang lahir sejak tahun 1899 ini telah puasa gelar selama tiga dekade lamanya. Piala terakhir yang mengisi lemari trofi Frankfurt merupakan gelar Piala Jerman 1988 silam.

"Sepak bola membuktkan salah satu cerita terindah. Saya senang untuk klub, untuk pendukung dan untuk tim. Saya merasa berterima kasih dengan seluruh dukungan yang diberikan kepada kami. Saya senang dengan gelar juara ini, tapi saya sedih karena harus pergi," ucap Kovac.

Terlepas dari catatan sejarah Frankfurt, Kovac membuktikan diri sebagai pelatih berkualitas. Seperti diketahui, pelatih 46 tahun ini telah setuju bergabung dengan Bayern Munchen musim depan, tapi kapasitasnya diragukan. Selain belum teruji dengan capain gelar, Kovac dinilai terlalu 'hijau' untuk memimpin klub sebesar Munchen.

Akan tetapi, kepiawaian untuk menjaga mentalitas Kevin Prince Boateng dkk ditengah kabar hengkang dirinya patut diacungi jempol. Kovac membuktikan diri sebagai motivator ulung.

"Kami berdiri di sini dan mendiskusikan ini sebelum pertandingan. Ketika kami bersama, anda dapat melakukan segalanya.Itulah yang terjadi di tim ini bahwa kerja keras selalu ada untuk kesuksesan," imbuhnya.

Selain itu, Kovac juga merupakan pelatih cerdik. Kecerdikan Kovac terbukti dalam laga ini. Melawan Munchen dengan kualitas pemain jauh lebih mumpuni, Frankfurt diinstruksikan untuk mempertebal pertahanan sembari menunggu kesempatan melakukan serangan balik cepat. Kovac juga memilih tidak memainkan satu pun pemain bertipikal penyerang murni. Hal ini membuat pergerakan Boateng dan sektor kedua sayap yang diandalkan untuk menjebola gawang lawan mampu bergerak menjadi lebih cair.

Taktik ini terbukti jitu karena di menit ke-11 pemain sayap Ante Rebic sukses mencetak gol pembuka. Namun, skor kembali imbang karena penyerang Munchen Robert Lewandowski menyamakan skor di menit ke-53.

Drama sesungguhnya terjadi pada 10 menit akhir pertandingan. Skuat Niko Kovac secara tiba-tiba meningkatkan intensitas serangan. Hal ini membuat dua palang pintu pertahanan Munchen Niklas Sule dan Mats Hummels tidak sigap. Keduanya pun kalah dalam duel berlari melawan Rebic sehingga gol kedua Frankfurt di menit ke-82 terjadi. Mimpi buruk benar-benar menimpa The Bavarians--julukan Munchen-- karena kebobolan gol ketiga berkat gol Mijat Gacinovic. (Goal/AP/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya