Kamis 14 April 2022, 04:40 WIB

Syukur Era 4.0

Arif Satria Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia | Renungan Ramadan
Syukur Era 4.0

MI/Seno
Arif Satria Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia

 

BILA dihitung, jumlah ayat dalam Alquran yang berisi perintah untuk terus mensyukuri nikmat itu ada sekitar 69 ayat yang tersebar dalam 37 surat.

Terus diulang-ulanginya kata syukur itu sebagai peringatan agar kita tidak mengulang kisah-kisah sebelumnya. Seperti dalam QS Ibrahim ayat 6 dan 7, yang artinya, "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Firaun dan) pengikut-pengikutnya,” dan lalu disambung dengan ayat berikutnya "Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."

Ayat tersebut turun di saat Nabi Musa dan kaumnya baru merdeka dari kejaran Firaun, tapi kaumnya masih terus mengeluhkan keadaan yang serba penuh kekurangan. Sikap terus mengeluh mereka itulah menjadi sebab turunnya ayat tersebut. Padahal nikmat kemerdekaan adalah nikmat yang amat besar karena kita bisa mendesain tata kehidupan sebagaimana yang kita inginkan.

Kisah Nabi Musa tersebut bisa kita kontekstualisasi kepada kondisi di Indonesia, yang pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. Alhamdulillah kita pun lalu diberi nikmat untuk bisa merdeka tahun 1945. Pascakemerdekaan, meski kehidupan belum sesempurna yang kita cita-citakan, ada tekad kuat menjadi negeri yang adil dan makmur. Langkah para pendiri bangsa sungguh luar biasa: menciptakan dasar negara, konstitusi, hingga membangun struktur negara dan lalu membangun bangsa baik secara ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Para pendiri bangsa telah mensyukuri nikmat dengan memberikan fondasi penting kelangsungan berbangsa dan bernegara.

Kehidupan bangsa terus berjalan dan kondisi hari ini sama sekali berbeda dengan kondisi pada awal kita merdeka. Kehidupan hari ini diwarnai kecepatan perubahan, kompleksitas, dan penuh ketidakpastian. Pandemi covid-19 telah benar-benar membuat kita serba tidak pasti. Pada saat yang sama Revolusi Industri 4.0 membuat semua serba cepat dan serba terkoneksi. Banyak pekerjaan hilang dan banyak pekerjaan baru muncul. Yang tidak adaptif maka akan tergilas oleh arus perubahan disruptif ini. Lalu bagaimana kita harus mensyukuri nikmat di era 4.0 ini?

Pertama, yakinlah bahwa kalau kita bersyukur, sebenarnya kita bersyukur untuk diri kita sendiri (QS Lukman: 12). Artinya, impak dari syukur nikmat adalah tambahan nikmat yang akan kita rasakan sendiri. Caranya? Tentu dengan ikhtiar mendayagunakan karunia Allah berupa nikmat akal, nikmat fisik, nikmat alam, dan nikmat iman secara cerdas diiringi dengan satu tekad, yakni rahmatan lil alamin. Kalau seluruh sumber daya tersebut makin berdayaguna, nilai tambah akan kembali kepada kita. Yang berarti, kualitas diri dan lingkungan kita akan makin unggul.

Kedua, terus melakukan perubahan sosial, sebagaimana dilakukan para nabi terdahulu. QS Ar-Ra’d ayat 11 menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubahnya. Artinya, ikhtiar dengan visi, strategi, dan eksekusi yang cerdas menjadi prasyarat kita berubah. Sebaliknya kalau kita diam saja tanpa ikhtiar sistematis, artinya kita tidak bersyukur dan akibatnya tidak akan ada tambahan nikmat yang kita dapatkan. Bahkan kita akan cepat tertinggal oleh perubahan.

Ketiga, memperkuat pola pikir (mindset) bahwa Islam mengajarkan kemajuan. Kejayaan peradaban Islam di Andalusia karena pola pikir masyarakatnya pada kemajuan. Salah satu wujud dan instrumen kemajuan waktu itu ialah ilmu pengetahuan dan teknologi (seperti Ilmu astronomi, biologi, kedokteran, dan geografi) dengan peran ilmuwan muslim yang menyejarah. Tentu, kebutuhan iptek hari ini berbeda. Karena itu, kita dituntut untuk semakin optimistis menguasasi iptek kekinian agar kita menjadi penentu peradaban baru. Tentu, iptek yang dilandasi iman dan takwa (imtak), dan langkah ini bisa menjadi bukti kita bersyukur di era 4.0 ini.

Baca Juga

MI/Seno

Merawat Kemabruran Puasa

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal 🕔Sabtu 30 April 2022, 04:10 WIB
Akhlak Tuhan dapat dikenal melalui sifat-sifat-Nya sebagaimana tergambar dalam nama-nama indah-Nya (al-asma`...
MI/Seno

Ramadan dan Mudik Lebaran

👤Moh Najib Wakil Ketua Umum MPP ICMI 🕔Jumat 29 April 2022, 04:55 WIB
DI antara keistimewaan Ramadan ialah Ramadan menjadi bulan penghapus...
MI/Duta

Puasa dari Elektabilitas Survei

👤Nadirsyah Hosen Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-Selandia Baru 🕔Kamis 28 April 2022, 04:15 WIB
SAAT ini hasil survei menjadi ukuran...

RENUNGAN RAMADAN

CAHAYA HATI


JADWAL IMSAKIYAH
Rabu, 25 Mei 2022 / Ramadan 1443 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK RAMADAN