Senin 13 Februari 2017, 08:03 WIB

Rekonsiliasi dalam Secangkir Kopi

Usman Kansong/Hamdi Djempot | Politik dan Hukum
Rekonsiliasi dalam Secangkir Kopi

MI/USMAN KANSONG

 

LETAKNYA persis di salah satu sudut simpang Tugu Trikora.

Itulah sebabnya pemiliknya menabalkan nama 'Rumah Kopi Trikora' untuk kedai kopinya.

Di dua pintu masuk kedai kopi tersebut terpampang tulisan 'Rumah Kopi Trikora'.

Akan tetapi, orang lebih mengenal warung kopi itu sebagai 'rumah kopi rekonsiliasi'.

Di rumah kopi inilah semasa kerusuhan agama yang terjadi di Ambon lalu, kelompok Islam dan Kristen bertemu.

Ibu Abba, salah satu pegawai kedai kopi tersebut, pekan lalu berkisah bahwa warung kopi rekonsiliasi terbilang bangunan lama, didirikan pada 1970-an.

Bangunan ini milik Beny Chandra yang beretnik Tionghoa. Awalnya, bangunan itu disewakan untuk apotek.

Pada tahun 2000 saat kerusuhan, bangunan ini dibakar massa.

Gereja Silo di seberangnya serta masjid yang terletak selang beberapa rumah dari warung kopi rekonsiliasi juga dibakar.

Beny merenovasinya dan menyulapnya menjadi warung kopi.

Namun, sisa gosong bekas kebakaran dibiarkan sehingga masih tampak di sejumlah bagian lantai.

"Kedai kopi ini mulai beroperasi pada September 2002," kata Ibu Abba yang mulai bekerja di situ setahun kemudian.

Beny awalnya mengelola langsung kedai kopinya.

Namun, usianya kini terlalu lanjut, 80 tahun lebih.

Pendengaran dan penglihatannya tak awas lagi.

Ia pun menyerahkan pengelolaan rumah kopi rekonsiliasi tersebut kepada putrinya, Anita.

Selain di persimpangan Tugu Trikora, rumah kopi rekonsiliasi rupanya terletak di perbatasan permukiman Islam, yakni kawasan Waihaong, permukiman Kristen, yaitu Urinesing.

Warga dari kedua kelompok menjadikan rumah kopi rekonsiliasi sebagai tempat bertemu.

Sambil minum kopi dan mencicipi makanan ringan, mereka membicarakan urusan pekerjaan, pemerintahan, bisnis, atau sekadar mengobrol.

"Transaksi sewa-menyewa mobil antara warga Islam dan Kristen terjadi di rumah kopi ini," kata Oles Mahulete, warga Ambon yang bekerja sebagai sopir mobil sewa itu.

Pada rangkaian peringatan Hari Pers Nasional ke-72 di Ambon, 5-9 Januari 2017, sejumlah peserta menyambangi rumah kopi rekonsiliasi untuk menikmati kopi sekaligus mengenang peran sejarahnya mengurangi kerasnya konflik Ambon kala itu.

Setelah tercapai perdamaian pada 2005, di tengah menjamurnya rumah-rumah kopi di Kota Ambon, rumah kopi rekonsiliasi tetap eksis dan ramai dikunjungi orang.

Bukan untuk rekonsiliasi, melainkan sekadar menikmati kopi dan aneka penganannya khas Ambon.

Warga tentu tak ingin konflik terulang dan kedamaian di Ambon terjaga selamanya.

Cukuplah rumah kopi rekonsiliasi menjadi saksi sejarah kejamnya konflik dan indahnya rekonsiliasi. (Usman Kansong/Hamdi Djempot/X-5)

Baca Juga

Ist/DPR

Komisi I DPR RI Setujui Pengangkatan Yudo Margono sebagai Panglima TNI

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 10:41 WIB
Komisi I DPR RI menyetujui pemberhentian Jenderal TNI Andika Perkasa dan Pengangkatan Laksamana TNI Yudo Margono sebagai Panglima...
Antara

Jelang Nataru, Satgas Pangan Polri Akan Tindak Spekulan

👤Tri Subarkah 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 10:00 WIB
Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berupaya memastikan ketersediaan pangan di tengah masyarakat jelang...
Antara

Berkat Kinerjanya, Erick Thohir Masuk Empat Besar Cawapres

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 07:52 WIB
Meningkatnya elektabilitas Erick Tohor sebagai cawapres diapresiasi Leo Agustino, pengamat politik Universitas Sultan Ageng...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya