Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Silatnas Satukan Dua Kubu Golkar

Astri Novaria
02/11/2015 00:00
Silatnas Satukan Dua Kubu Golkar
(ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)
ACARA Syukuran dan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Partai Golkar telah mempersatukan dua kubu yang selama kurang lebih setahun terakhir ini terlibat dalam konflik kepengurusan. Namun, belum ada penegasan tentang format islah yang akan disepakati antara kubu munas Ancol yang dipimpin Agung Laksono dan kubu munas Bali yang di-pimpin Aburizal Bakrie.

Dalam kesemaptan itu, Agung Laksono dan Aburizal Bakrie duduk semeja dengan Jusuf Kalla, Luhut Pandjaitan, Setya Novanto, dan Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut).

Selain kader dari kedua kubu serta para calon kepala daerah yang diusung Golkar dalam pilkada serentak tahun ini, hadir pula sejumlah tokoh senior partai beringin seperti Oetojo Oesman, Soebijakto Tjakrawedaya, JB Soemarlin, dan Fahmi Idris.

Ketika menyampaikan sambutan, Agung dan Aburizal sama-sama memuji dan berterima kasih kepada Wapres Jusuf Kalla yang selama ini berperan aktif mencari jalan keluar penyelesaian konflik internal Golkar. Berkenaan dengan hal itu, Tantowi Yahya yang bertindak sebagai pembawa acara dengan setengah berkelakar menyebut JK sebagai singkatan dari 'jalan keluar'.

Agung Laksono menyadari perpecahan Golkar telah menjadi bahan tertawaan bagi partai lain. Oleh karena itu, ia menginginkan Golkar kembali bersatu.

"Tanpa terasa hampir setahun telah terjadi perpecahan atau konflik kepengurusan. Kita saling serang padahal teman, saling tuding, dan saling menertawakan. Ini yang membuat kita pun ditertawakan orang lain," kata Agung saat menyampaikan sambutan pada forum silatnas yang berlangsung di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, tadi malam.

Dengan adanya silatnas, kata Agung, Golkar ingin membuktikan keinginan sungguh-sungguh untuk kembali bersatu. Putusan MA dan tujuan bersama untuk memenangi pilkada serentak menjadi alasan utama Golkar harus kembali bersatu.

Agung menyebut islah kubunya dengan kubu Aburizal telah terwujud dan keduanya telah sepakat untuk mendukung pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla. "Kami, saya dan Pak Ical telah sepakat untuk mendukung pemerintahan Jokowi secara tulus," ungkapnya.

Dukungan tersebut, imbuhnya, memiliki karakter loyal dan kritis. Artinya, Golkar loyal kepada pemerintah, tapi akan mengkritik jika ada hal-hal yang dirasa tidak sesuai dengan kepentingan rakyat.

Jalur hukum

Aburizal Bakrie menegaskan bahwa perpecahan yang terjadi tidak menggerogoti Golkar. "Pada Pilpres 2014 maupun Munas 2014 terjadi perpecahan yang berdampak serius terhadap Golkar, muncul parpol baru. Tapi sekalipun demikian, perpecahan internal, termasuk yang terjadi belakangan ini, tidak menggoyahkan kader beringin," katanya.

Penyelesaian konflik kepengurusan, kata dia, telah memperoleh jawaban melalui putusan Mahkamah Agung. "Jalur hukum adalah cara terbaik," tukasnya.

Sementara itu, Jusuf Kalla menyindir Golkar bisa menjadi ormas jika terus bertikai."Anda bisa membuat sejarah baru kalau kita tidak bersatu, Anda akan membawa Golkar dari partai menjadi ormas," tegasnya.(P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya