Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Siyono Berposisi Penting di Jaringan JI

Golda Eksa
05/4/2016 06:10
Siyono Berposisi Penting di Jaringan JI
(ANTARA/ Aloysius Jarot Nugroho)

KEPOLISIAN Negara Republik Indonesia memastikan Siyono merupakan salah satu target operasi yang sudah lama diincar Detasemen Khusus 88 Antiteror.

Siyono merupakan anggota separatis Jamaah Islamiyah (JI) pimpinan Abu Bakar Baasyir.

"Kita punya pemeriksaan monitoring, pemeriksaan saksi-saksi yang sudah tertangka, dan dia (Siyono) termasuk jaringan JI," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, kemarin.

Siyono yang tercatat sebagai warga asal Klaten, Jawa Tengah, memiliki peran sentral dalam struktur organisasi tersebut.

Namun, Badrodin belum tahu jabatan apa yang diemban Siyono sejak bergabung dengan JI pada 2001.

"Kalau di struktur, berarti dia orang penting," katanya.

Terkait dengan informasi yang menyebut Siyono tewas setelah ditangkap tim Densus 88, sambung dia, Polri tetap melakukan penyelidikan internal oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.

Hasil penyelidikan tersebut nantinya akan disampaikan ke publik.

"Kan disesuaikan pelanggaran apa. Kalau SOP (prosedur operasional standar), ya pasti (sanksi) kode etik. Kalau pelanggaran meninggal ditembak, itu pidana. Kita belum tahu hasilnya," terang Badrodin.

Senada disampaikan Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan.

Menurutnya, persoalan kematian Siyono sebaiknya jangan terlalu cepat dinilai sebagai kesalahan tim Densus 88.

"Biarkan dulu selesai. Jangan berburuk sangka terhadap Densus (88). Mereka ada prosedur kerja yang tidak ingin mereka langgar," terang Luhut yang mengaku belum mengetahui detail perkembangan penyelesaian persoalan tersebut.

Jenazah Siyono, Minggu (3/4), diautopsi tim dokter forensik berjumlah 10 orang.

Autopsi yang berlangsung selama 3,5 jam itu dilakukan sembilan dokter dari Muhammadiyah dan satu dari Polda Jateng.

Pelaksanaan autopsi dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas dan komisioner Komnas HAM Hafid Abbas.

"Upaya autopsi terhadap tersangka teroris almarhum Siyono perlu dilihat secara jernih. Didasari oleh rasa keadilan terhadap korban-korban tersangka teroris yang begitu mudah tercabut nyawanya. Banyak yang meninggal dunia bahkan kita tidak tahu itu tersangka teroris," ujar mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Jakarta, kemarin.

Santoso

Terkait dengan upaya penangkapan kelompok teroris Santoso di Poso, Badrodin mengatakan para pengikut Santoso kini tinggal menyisakan 29 orang.

Kapolri meyakini dalam waktu dekat Santoso akan segera ditangkap.

Hal senada diungkapkan Kepala BNPT Tito Karnavian.

"Saya sudah berdiskusi dengan aparat TNI dan Polri di sana, para komandan. Saya kira (penangkapan Santoso) ini tinggal menunggu waktu saja. Posisinya sudah terdesak, logistik sebenarnya sudah habis, senjata sisa tinggal enam saja," ungkap Tito. (Kim/TB/LN/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya