Minggu 20 Desember 2020, 05:40 WIB

Densus Selidiki Dugaan Kelompok Teroris Muda

(Ykb/Cah/J-2) | Politik dan Hukum
Densus Selidiki Dugaan Kelompok Teroris Muda

ANTARA/ARDIANSYAH
Kabagpenum Mabes Polri Kombes Ahmad Ramadhan (kedua dari kiri) melihat bungker tempat terduga teroris Taufi k Bulaga alias Upik Lawanga

 

KORPS Bhayangkara mengakui penyebaran terorisme di era digitalisasi semakin berkembang. Salah satu cara untuk merekrut kelompok radikal tersebut ialah melalui dunia maya.

Demikian dikatakan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono. Menurut dia, saat ini Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri juga sedang menyelidiki informasi
dugaan adanya pergerakan teroris muda yang dilatih secara khusus untuk menebar teror ke beberapa pihak, termasuk tokoh-tokoh penting di negeri ini.

Namun, Argo mengaku pihaknya belum bisa membeberkan secara gamblang terkait dengan modus operandi ataupun pihak-pihak yang terlibat dalam aksi kelompok itu.

“Kami sedang melakukan penyelidikan. Jadi memang tidak mudah, ya dengan perkembangan teknologi yang sekarang ada. Ini masih bagian dari penyelidikan Densus 88, berkaitan dengan informasi bahwa ada beberapa pemuda yang direkrut,” kata Argo, kemarin.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyebut kelompok teroris muda itu acap kali menyiapkan teror bagi kelompok VVIP. “Saya dapat foto latihannya juga. Nah, yang seperti ini jadi ideologi itu radikalisme yang mengarah, menghantam ideologi. Itu intoleran dan yang lebih parah ialah teror. Teror itu karena paham jihadis. Paham jihad yang salah,” kata Mahfud.

Selain dugaan teroris muda, Argo juga mengatakan pihaknya menemukan bukti bahwa kelompok teroris lain, yaitu Jemaah Islamiyah (JI) kerap memanfaatkan pendanaan via kotak amal hingga melalui yayasan. Dana itu digunakan untuk membiayai semua jaringan dan selsel JI yang tersebar di seluruh Indonesia, terutama yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Tercatat, sepanjang November hingga Desember 2020, Densus 88 telah meringkus 23 teroris yang tersebar di beberapa wilayah, termasuk ahli perakit bom Taufi k Bulaga alias Upik Lawanga, anggota JI yang masuk daftar pencari an orang (DPO) selama 14 tahun.

Pengamat terorisme dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Robi Sugara menilai pendanaan asing terhadap JI mulai menyusut.

Mereka kemudian mencari cara agar tetap eksis dengan menyedot dana masyarakat lewat modus kotak amal bodong.

Penggalangan dana melalui kotak amal oleh anggota JI, menurut Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris, harus membuat masyarakat lebih waspada. Pasalnya, kelompok teror menggunakan banyak cara untuk memicu keresahan. (Ykb/Cah/J-2)

Baca Juga

Dok MI

Produk dalam Negeri Harus Jadi Tuan di Rumah Sendiri

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Kamis 26 Mei 2022, 23:42 WIB
"UMKM harus jadi perhatian  karena sektor ini paling luas serapan lapangan kerjanya,"...
MI/Bayu Anggoro

Selesaikan Polemik Penjabat Kepala Daerah dengan Penguatan Birokrasi Sipil

👤Golda Eksa 🕔Kamis 26 Mei 2022, 21:54 WIB
Mengintegrasikan politik kepemiluan agar dapat segera serentak melaksanakan hajat...
Ilustrasi

Ini Rincian Penggunaan Anggaran Tahapan Pemilu 2024

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Kamis 26 Mei 2022, 21:28 WIB
Ketua KPU Hasyim Asy’ari menuturkan sebanyak 82,71 persen atau Rp63,405 Triliun digunakan untuk pelaksanaan tahapan pemilu, honor...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya