Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin kemarin menghadiri upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2020 di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Rangkaian upacara dimulai dengan laporan komandan upacara kepada Presiden Jokowi yang bertindak sebagai inspektur upacara. Prosesi dilanjutkan dengan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh inspektur upacara, pembacaan naskah Pancasila oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Bambang Soesatyo, pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 oleh Ketua Dewan Perwakilan Daerah La Nyalla Mattalitti. Setelah itu, pembacaan naskah Ikrar oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani, lalu ditutup dengan pembacaaan doa oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
Selepas upacara, Presiden bersama dengan Wapres dan para pimpinan lembaga tinggi negara mengunjungi Monumen Pancasila Sakti sebelum meninggalkan lokasi.
Melalui unggahannya di akun Twitter pribadi, Presiden Jokowi mengatakan bangsa Indonesia sepanjang sejarah berdirinya telah menghadapi berbagai tantangan. Pandemi kali ini merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi bangsa.
“Tantangan dan ujian dalam berbagai bentuk pernah dihadapi bangsa ini, dari zaman kemerdeka an, masa pembangunan, era globalisasi, sampai pandemi covid-19 saat ini. Semua tantangan itu kita lewati berkat kekuatan persatuan dan persaudaraan bangsa yang dipandu ideologi Pancasila,” tulisnya.
Sementara itu, Wapres Ma’ruf Amin sebelumnya menuturkan bahwa Pancasila merupakan dasar dan ideologi negara yang telah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa. Namun, pada implementasinya, keragaman suku, budaya, dan agama yang ada di Indonesia masih menimbulkan perbedaan pandangan di masyarakat terhadap pengamalan nilai-nilai Pancasila. Untuk mencegah hal tersebut, nilai-nilai yang terkandung di dalam agama dan Pancasila harus dapat dipahami secara menyeluruh sehingga akan tercipta kerukunan bangsa.
“Untuk menjaga agar Pancasila tetap dipahami secara komprehensif, tidak boleh dipahami secara parsial antara satu sila dan sila yang lain,” tegasnya seperti dikutip dari siaran pers Setwapres, kemarin.
Terpisah, Kepala Staf Presiden Moeldoko menekankan bahwa Hari Kesaktian Pancasila ialah momen yang harus selalu diingatkan kepada generasi muda. Peristiwa yang terjadi pada masa lalu harus dijadikan sebagai sebuah alarm kewaspadaan.
Dia juga menegaskan bahwa Kesaktian Pancasila harus dimaknai secara lebih luas lagi dan tidak hanya sekadar bicara Peristiwa 1965. “Jangan sekali-sekali kita melupakan sejarah. Namun, kita juga harus berpikir maju. Artinya, Pancasila harus selalu kita pegang. Ideologi itu harus mewarnai seluruh segi kehidupan kita,” tuturnya.
Pahlawan kemanusiaan
Upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila kemarin wajib diikuti secara virtual oleh para menteri, pimpinan lembaga negara atau instansi pusat beserta pimpinan tinggi madya atau sederajat, kepala daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), serta kantor atau lembaga yang ada di daerah.
Salah satunya ialah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim. Dalam pidato menyambut Hari Kesaktian Pancasila, Mendikbud mengapresiasi hadirnya pahlawan kemanusiaan seperti tenaga medis, dan relawan yang turut meringankan beban rakyat
akibat pandemi. “Di masa krisis, lilin-lilin Pancasila menerangi kegelapan di mana-mana,” ujar Nadiem. (Pra/Bay/RO/X-11)
AWAL tahun 2026 menghadirkan sebuah kejutan penting bagi Indonesia.
Adanya pelanggaran dalam tata kelola pemerintahan negara yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat.
Sebagai agenda pembangunan global, SDGs diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui aksi-aksi terukur di lapangan.
SERANGAN Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela menandai kembalinya praktik unilateralisme secara terang-terangan dalam politik internasional. T
Tanpa Pancasila sebagai bingkai, demokrasi lokal hanya akan sibuk merayakan prosedur, tetapi gagal menghadirkan keadilan.
Jika Generasi Z Indonesia mengadopsi Pancasila sebagai filter etika AI, kita tak hanya selamat dari distopia teknologi, tapi juga membangun Nusantara digital yang berkeadilan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved