Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA dalam kurun terakhir seakan berada dalam darurat radikal dan radikalisme. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menawarkan untuk mengarusutamakan moderasi dalam menghadapi radikalisme.
"Moderasi diperlukan sebagai jalan alternatif dari deradikalisasi agar sejalan dengan Pancasila sebagai ideologi tengah dan karakter bangsa Indonesia yang moderat" kata Prof Haedar Nashir dalam pidato pengukuhan Guru Besa ilmu sosiologi, bertajuk Moderasi Indonesia dan Ke-Indonesiaan Perspektif Sosiologi di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (12/12/2019).
Haedar menyebut, moderasi menjadi rujukan strategi dalam menghadapi radikalisme di Indonesia. Moderasi Indonesia dan keindonesiaan merupakan keniscayaan bagi kepentingan masa depan Indonesia yang sejalan dengan landasan, jiwa, pikiran, dan cita-cita kemerdekaan. Hal tersebut terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 dan spirit para pendiri bangsa.
"Indonesia harus dibebaskan dari segala bentuk radikalisme, baik dari tarikan ekstrem ke arah liberalisasi dan sekularisasi maupun ortodoksi dalam kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan keagamaan, yang menyebabkan Pancasila dan agama-agama kehilangan titik moderatnya yang autentik di negeri ini," kata dia.
Sebelum memaparkan pandangannya soal moderasi, Haedar dalam kesempatan itu sempat mengkritik terminologi radikalisme di Indonesia yang menjadi bias dan peyoratif. Pasalnya, radikalisme di Indonesia terbatas ditujukan objeknya pada radikalisme agama, khususnya Islam.
baca juga: Yuk Intip Hukuman untuk Koruptor di Berbagai Negara di Dunia
Ketika radikalisme dimaknai sebagai pandangan dan orientasi ekstrem dan keras, melahirkan banyak masalah yang merugikan hajat hidup rakyat dan bertentangan dengan spirit kemerdekaan tahun 1945. Radikalisme ideologi, politik, ekonomi, dan budaya dapat disimpulkan sama bermasalah dengan radikalisme atau ekstremisme beragama bagi masa depan Indonesia.
Keterlibatan aktif orang tua dalam komunitas pengawasan dinilai menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran paham ekstrem.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
Densus 88 mengungkap remaja 14 tahun di Jepara memiliki koneksi dengan pendiri kelompok ekstremis Prancis BNTG dan aktif di komunitas True Crime.
BNPT mencatat 112 anak Indonesia terpapar radikalisasi terorisme lewat media sosial dan gimĀ online sepanjang 2025, dengan proses yang makin cepat di ruang digital.
Radikalisme dan intoleransi tidak bisa dilawan hanya dengan regulasi, tetapi dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etis bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved