Headline
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Kumpulan Berita DPR RI
MASA depan suatu bangsa, khususnya Indonesia, amat bergantung pada sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Untuk memiliki SDM yang berkualitas, setidaknya suatu bangsa harus memenuhi dua unsur, yakni kemerdekaan dan kebebasan.
Hal itu ditegaskan Presiden Republik Indonesia ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie dalam sambutannya di acara silaturahim dan Sarasehan dengan tokoh masyarakat dan sesepuh bangsa di kediamannya, Jakarta, Rabu (1/5).
"Ada bangsa yang merdeka tapi tidak bebas, ada juga bangsa yang bebas tapi tidak merdeka. Tetapi, dua unsur itu telah diabadikan dalam UUD 1945, sampai detik ini UUD 45 tidak kita korek," ujar Habibie.
Ia menjelaskan, pada saat kemerdekaan Indonesia, masyarakat tidak langsung sepenuhnya diberikan kebebasan. Hal itu menurutnya terlihat dari proklamasi yang disampaikan oleh Bapak Bangsa, Soekarno dan Hatta.
Menurutnya, bila saat itu masyarakat juga diberikan kebebasan, maka perpecahan ialah keniscayaan.
"Kita menyadari bahwa walaupun UUD 45 kita itu sudah implisit mengandung setiap manusia itu bebas dan merdeka. Namun yang diberikan proklamasi hanya kemerdekaan. Kebebasan belum mampu, karena jikalau diberikan juga kebebasan, kita pecah, bisa ditunggangi, itu keliatan sekali," terang Habibie.
Habibie tidak menampik kalau bangsa ini tidak saja membutuhkan kemerdekaan, oleh karenanya kebebasan bangsa itu digagas oleh generasi peralihan yang ada setelah generasi penggerak kemerdekaan 45. Ia pun mensyukuri saat ini Indonesia dipimpin oleh generasi penerus bangsa.
Baca juga : TKN: Masyarakat Sudah Makin Matang Berdemokrasi
"Generasi peralihan saya definisikan adalah suatu generasi yang pernah bekerja erat dengan generasi 45 kemerdekaan kita dan menyusun undang undang dasar dan dengan generasi penerus. Dan kita bersyukur yang memimpin Indonesia sekarang adalah generasi penerus," kata Habibie.
Kebebasan, lanjut Habibie, dapat dirasakan secara nyata setelah 20 tahun lebih negeri ini memasuki era reformasi. Ia kemudian mengibaratkan kebebasan berkekspresi dari generasi muda sebagai sumber mata air.
"Sekarang itu anak muda, adalah masa depan Indonesia. Saya samakan seperti mata air, mata air itu bagaimana pemikiran dan tingkah lakunya," tuturnya.
Generasi muda yang bebas dan menjadi SDM utama bangsa saat ini, dapat terbentuk kualitasnya dengan baik bila memahami tiga proses utama dalam berkehidupan. Proses itu, menurutnya adalah pembudayaan, pendidikan, dan keunggulan.
"Sinergi proses kebudayaan outputnya adalah iman dan takwa, proses pendidikan adalah keterampilan, dan itu menghasilkan manusia yang produktif. Tapi yang produktif belum tentu menang dalam globalisasi. Itu hanya mungkin jikalau kita sediakan untuk anak cucu kita lapangan pekerjaan," tukas Habibie.
Kemudian, untuk menjadi generasi yang unggul, bangsa Indonesia harus mampu memaknai UUD 45 dan Pancasila sebagai dasar dalam berkehidupan. Indonesia, dengan kemajemukkannya, beruntung memiliki Pancasila sebagai landasan berbangsa yang poin utamanya Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Kita bersyukur Pancasila itu dimulai dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena hanya ada satu yang berkuasa di alam semesta ini, Tuhan Yang Maha Esa," tandas Habibie.
Dalam acara itu hadir pula tokoh-tokoh bangsa seperti Mahfud MD, Dahlan Iskan, Romo Magnis Suseno, Quraish Shihab, Sinta Nuriyah dan beberapa tokoh lainnya. (OL-8)
Ia menekankan bahwa pelibatan militer seharusnya menjadi langkah terakhir dalam situasi luar biasa ketika aparat penegak hukum tidak lagi mampu menangani ancaman yang muncul.
Ketua Divisi Riset dan Dokumentasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Hans Giovanny Yosua mengingatkan agar Polri tidak disalahgunakan.
Bisa jadi kata cemooh berasal dari kata ini; atau setidaknya memiliki nalar dan rasa yang sebangun.
Mahasiswa diimbau untuk tetap menyampaikan aspirasi secara damai dan konstitusional, khususnya di bulan suci Ramadan.
Pengamat ESA Unggul Jamiluddin Ritonga kritik usulan koalisi permanen Golkar untuk Prabowo, dinilai berisiko lemahkan DPR dan checks and balances.
Demokrasi, bisa bertumbuh dari akar ilmu (pengetahuan) yang terintegrasi dengan amal perbuatan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved