Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Rajin Membaca Jadi Cara Ampuh Tangkal Hoaks

Ghani Nurcahyadi
11/3/2019 22:30
Rajin Membaca Jadi Cara Ampuh Tangkal Hoaks
(ilustrasi)

DENGAN minat baca yang cukup rendah, tetapi getol browsing di sosial media, masyarakat Indonesia berubah menjadi trigger happy, ketimbang smart finger. Kebiasaan di sosial media, sebar dulu baru konfirmasi belakangan sehingga menghasilkan lebih banyak informasi yang salah dan berita palsu.

Berdasarkan sebuah penelitian yang berjudul "Most Literate Nations in the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara, sebagai negara dengan minat baca terendah.

Namun, dengan peringkat Indonesia sebagai negara paling aktif keempat dalam hal penggunaan ponsel cerdas setelah Tiongkok, India dan AS, membuat Indonesia menjadi salah satu negara "melek digital" dengan jumlah sekitar 130 juta pengguna media sosial di negara ini, dan sangat berbanding lurus untuk populasi dan sirkulasi smartphone.

Dengan minat baca yang rendah, media sosial menjadi sumber informasi alternatif, tetapi ketika tidak digunakan secara bijak, media sosial pun dapat menjadi sarana dalam penyebaran berita palsu. Konsep trigger happy (hanya berbagi berita tanpa terlalu banyak merinci), telah menjadi kebiasaan buruk sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia.

Shelly Tantri S selaku Head of Business Development BaBe mengatakan langkah pertama untuk bisa mengidentifikasi informasi yang salah ketika menemukan berita atau pesan apa pun di media sosial, ialah dengan melihat judul beritanya.

"Pastikan berita yang kita baca tidak mengandung topik sensasional, atau tidak masuk akal. Seperti contoh, ketika gempa bumi terjadi, sudah pasti bahwa berita yang mengatakan gempa susulan dengan skala lebih besar dapat dipastikan adalah berita bohong, karena gempa tidak bisa diprediksi sama sekali." kata Shelly

Kemudian, lanjut dia, pastikan berita berasal dari sumber yang terpercaya, entah artikel tersebut berasal dari penerbit yang sangat terkenal, atau ditulis oleh seorang ahli. "Semua berita di BaBe tentu saja berasal dari media tepercaya di Indonesia. Selain itu, BaBe dengan AI teknologi dan pembelajaran mesin terkemuka bekerjasama dengan tim konten moderasi mampu menyaring berita yang masuk ke sistem BaBe," ujar Shelly.

"Tidak kalah penting adalah biasakan membaca seluruh isi berita. Berita palsu biasanya menyertakan sumber yang terlihat kredibel, seperti tips kesehatan dari dokter terkenal. Kita dapat dengan mudah menelusuri nama dokter di internet. Jika nama dokter tidak ditemukan dan artikelnya, dapat dipastikan bahwa berita tersebut adalah berita palsu. Selain itu, kita juga dapat memeriksa melalui sumber tepercaya lainnya seperti situs web khusus medis," jelas Shelly.

Baca juga: Jokowi Ajak Masyarakat Perangi Hoaks dan Fitnah

"Dengan momentum Pemilihan Presiden 2019 yang semakin dekat, kita dapat menerapkan tiga langkah mudah untuk memastikan apakah artikel yang kita baca itu salah atau tidak." Tentunya artikel yang dirilis di BaBe telah menggunakan tiga langkah ini untuk memastikan bahwa berita yang kami rilis bukan berita palsu," Shelly menyimpulkan. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik