Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

AS Embargo Rusia, Kemhan Garansi Pembelian Alutsista Tidak Terkendala

Golda Eksa
19/6/2018 17:18
AS Embargo Rusia, Kemhan Garansi Pembelian Alutsista Tidak Terkendala
(ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

PEMERINTAH melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) menjamin rencana pembelian sejumlah alat utama sistem pertahanan (alutsista) tidak bakal terkendala, meski realitasnya terjadi politik embargo Amerika Serikat terhadap Rusia.

Hal itu dikemukakan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen Totok Sugiharto ketika dihubungi Media Indonesia, Selasa (19/6). "Tidak ada masalah mengenai hal itu. Pembelian alutsista sejauh ini masih aman," ujarnya.

Menurut dia, dalam waktu dekat pemerintah pun berencana membeli 5 unit pesawat angkut jenis Hercules dari AS untuk memperkuat alutsista TNI. Itu untuk mengganti sejumlah armada burung besi jenis serupa yang usianya terbilang tua.

"Rencananya kita beli Hercules tipe J atau tipe terbaru. Jika tidak ada kendala kemungkinan seluruh pesawat itu akan tiba dua tahun kemudian, 2020. Sekarang kita baru memesan saja dari AS," katanya.

Penegasan Totok sekaligus menepis informasi bahwa pemerintah Indonesia terancam sanksi dari AS apabila tetap membeli sejumlah jet tempur canggih Sukhoi dari Rusia. "Itu tidak benar soal kendala. Saat ini hanya Hercules saja yang akan kita beli," tandasnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan kondisi alutista TNI AU masih jauh panggang dari api alias belum sesuai dengan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya operasi militer. Meski demikian, prajurit diingatkan untuk tetap mampu melaksanakan tugas, khususnya menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, dan melindungi segenap bangsa.

Hadi membeberkan, kebutuhan untuk mendukung terlaksananya operasi militer itu dilihat berdasarkan eksistensi ancaman nyata, ancaman potensial, dan ancaman hibrida. Parameter tersebut juga tetap memperhatikan kemajuan dan perkembangan teknologi pertahanan, serta kondisi geografis sebagai negara kepulauan.

"Namun, dengan perencanaan pembangunan kekuatan TNI Angkatan Udara yang baik tentunya secara bertahap akan dapat memenuhi target minimum essential force (MEF)," ujarnya.

Saat ini proyeksi pembangunan TNI AU sudah diarahkan agar dapat mencapai air supremacy atau air superiority. Adapun sasaran yang hendak dicapai, antara lain kekuatan pemukul udara strategis untuk menghadapi dua trouble spots dalam bentuk komposit yang berisi sejumlah pesawat tempur multirole dari generasi 4,5.

Selain itu, pembangunan TNI AU juga diarahkan pada kemampuan mobilitas serta proyeksi kekuatan pada lingkup nasional, regional, dan global.

Menurut dia, sistem pertahanan udara pun akan diintegrasikan dengan matra AD dan AL dalam suatu jaringan bertempur (network centric warfare).

"Pada pembangunan kekuatan selanjutnya juga akan mengaplikasikan konsep berperang dengan unmanmed combat aerial vehicle (UCAV) yang berbasis satelit," ujar dia.

Mantan Irjen Kementerian Pertahanan, itu menuturkan penambahan alutsista TNI AU sudah disalin dalam bentuk rencana strategis (renstra) kedua 2014-2019. Pun Kepala Staf TNI AU Marsekal Yuyu Sutisna nantinya akan menindaklanjuti kebijakan tersebut dan berkoordinasi ke Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan.

Alutsista yang tengah ditunggu, imbuh dia, seperti 11 jet tempur Sukhoi (SU-35) untuk menggantikan pesawat F5 yang sudah dikandangkan di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun, serta penambahan 12 radar ground control intercept (GCI), pesawat Hercules tipe J, pesawat angkut ringan, dan sejumlah helikopter.

"Saya katakan, dalam renstra kedua alutsista TNI AU masih perlu penambahan, namun semuanya itu sudah ada di renstra," tutup Hadi. (Ol-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya