Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Ini Lima Alasan Elektabilitas Jokowi Mulai Goyah, Versi LSI

Astri Novaria
15/5/2018 00:44
Ini Lima Alasan Elektabilitas Jokowi Mulai Goyah, Versi LSI
(Dok.MI)

LINGKARAN Survei Indonesia (LSI) menyebutkan setidaknya ada lima alasan mengapa Joko Widodo menjadi capres dengan elektabilitas terkuat namun makin goyah.

Peneliti LSI, Adjie Alfaraby mengungkapkan alasan pertama adalah karena attacking campaign yang sudah dimulai dan semakin masif. Salah satu simbol gerakan perlawanan yang mulai massif adalah #2019GantiPresiden.

"Meski baru sekitar sebulan dikampanyekan, #2019GantiPresiden sudah populer," ungkapnya di Kantor LSI, Jakarta, Senin (14/5).

Sekitar 50,8% publik menyatakan pernah mendengar kampanye #2019GantiPresiden. Dari separuh publik yang pernah mendengar kampanye ini, sebesar 49,8% menyatakan bahwa mereka suka dengan kampanye tersebut. Dan hanya 26,9% yang menyatakan tidak suka.

"Artinya, jika kampanye tagar ini semakin populer dan massif maka akan mengganggu elektabilitas petahana," lanjutnya.

Adjie menambahkan faktor popularitas dan elektabilitas tidak cukup menganalisa karakter pemilih yang cepat berubah. Selain karena alasan attacking campaign, alasan kedua yang bisa menganggu elekbilitas petahana adalah soal isu tenaga kerja asing.

Dalam beberapa waktu terakhir, isu tenaga kerja asing ramai menjadi perbincangan publik. Isu bahwa pemerintah memudahkan tenaga kerja asing masuk dan bekerja di Indonesia untuk semua sektor dengan gaji yang lebih besar menjadi konsumsi publik.

"Meski masih minoritas yang pernah mendengar isu ini. Namun demikian, isu ini mendapat respon negatif mayoritas publik. Sebesar 76,59% dari mereka yang sudah mendengar menyatakan bahwa mereka tidak setuju dengan isu masuknya tenaga kerja asing. Artinya, jika semakin banyak publik yang tahu isu ini, maka resistensi terhadap petahana pun semakin kuat karena dinilai mendukung masuknya tenaga kerja asing," tandasnya.

Alasan ketiga, yakni kepuasan terhadap ekonomi rendah terutama terkait dengan lapangan kerja. Survei LSI menunjukkan bahwa 54,30% publik menyatakan tidak puas dengan kinerja pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja. Dan hanya 35,50% menyatakan puas dengan kinerja pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja.

"Soal lapangan kerja ini adalah masalah yang sangat mendasar bagi pemilih. Akar masalah ini yang mudah membakar isu lainnya. Mereka yang tidak puas diatas 50%," ungkapnya.

Alasan keempat, Jokowi tidak populer di kelompok pemilih Islam politik. Pihaknya dalam survei menanyakan pertanyaan khusus kepada pemilih Islam, bagaimana pendapat mereka tentang pandangan bahwa agama harus dipisah dari politik. Sebesar 47,8% menyatakan bahwa agama dan politik adalah satu kesatuan.

Agama menurut mayoritas responden dinilai tidak boleh dipisahkan dari politik. Sementara, sebesar 35,8% menyatakan bahwa agama arus dipisahkan dari politik. Dari mereka yang menyatakan bahwa agama harus dipisahkan dari politik, mayoritas 56,4% menyatakan akan memilih Jokowi. Sedangkan 39,7% yang menyatakan akan memilih capres lainnya.

"Sementara pada pemilih yang menyatakan bahwa agama dan politik tidak dapat dipisahkan, justru lebih banyak yang inginkan presiden baru, yaitu sebesar 43,9% dan 39,3% menyatakan akan memilih Jokowi. Data ini menunjukkan bahwa Jokowi kalah populer di komunitas Islam politik yang sedang menggeliat," jelasnya.

Alasan kelima, Jokowi dinilai publik masih lemah dan bisa dikalahkan. Adjie memaparkan survei LSI menunjukkan bahwa hanya sebesar 32,28% responden yang menyatakan Jokowi kuat dan akan menang. Sedangkan 28,02% responden menyatakan bahwa Jokowi masih bisa dikalahkan. Sementara itu, 39,70% menyatakan tidak tahu.

"Publik yang percaya bahwa Jokowi tidak bisa dikalahkan dengan publik yang percaya bahwa JOkowi bisa dikalahkan hanya terpaut tipis," pungkasnya. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya