Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN RI Joko Widodo mengatakan bahwa pelaku pengeboman gereja di Surabaya, Jawa Timur, melibatkan dua anak kecil dalam melakukan aksi bom bunuh diri.
"Pelaku menggunakan dua anak berumur kurang lebih 10 tahun yang digunakan juga untuk pelaku bom bunuh diri," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menggelar konferensi pers di Surabaya, Minggu (13/5).
Jokowi pun menyesalkan bahwa aksi pengeboman itu telah menelan banyak korban, di antaranya anak-anak yang tidak berdosa. Keprihatinan tersebut disampaikannya mengingat seharusnya tidak terjadi atau jatuh korban yang begitu banyak, terlebih anak-anak kecil.
Presiden, selepas mendapatkan laporan terkait dengan pengeboman tiga gereja di Surabaya, langsung membatalkan dua agendanya di Jakarta dan seketika bertolak ke Surabaya.
Ia pun mendatangi dua lokasi gereja yang mendapat serangan aksi terorisme tersebut, yakni GKI di Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuna.
Selanjutnya, Presiden juga mengunjungi korban luka yang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.
Pelaku serangan bom di Surabaya diduga ialah satu keluarga. Serangan di Gereja Pentakosta Pusat Jalan Arjuna dilakukan pria bernama Dita Rifuanto. Sebelumnya ia menurunkan istrinya Puji Wastuti dan dua anaknya Fadila Sari, 12 dan Vamela Riskika, 9, yang melakukan aksi di GKI Diponengoro sedangkan pelaku peledakan di Gereja Maria Tak Tercela adalah dua laki-laki yang diduga putra Dita yaitu Yusuf dan Irman.
Ledakan terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuna. Ledakan pertama terjadi di Gereja Maria Tak Tercela, yaitu pada sekitar pukul 07.30 WIB. Adapun dua ledakan lain, berjeda masing-masing 5 menit setelah ledakan pertama. (Antara/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved