Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
PERWAKILAN Fatayat Nahdatul Ulama (NU) Wahidah Suaib menilai aksi terorisme yang terjadi hari ini di Surabaya pelibatan perempuan dan anak-anak sebagai eksekutor bom bunuh diri atau yang kerap disebut 'pengantin', perlu diwaspadai sebagai pola aksi terorisme ke depannya.
"Sangat memprihatikan karena melibatkan perempuan bahkan anak-anak. Padahal perempuan dianugerahi rasa kasih sayang yang luar biasa tapi justru ditempatkan dalam posisi untuk ikut memusuhi orang yang berbeda dengan mereka," tutur Wahidah dalam konferensi pers di gedung Bawaslu RI hari ini.
Wahidah mengingatkan bahwa bisa jadi aksi teror yang melibatkan perempuan dan anak tidak akan berhenti sampai pada hari ini.
"Ini sangat penting kita waspadai apalagi kita salah menduga bahwa hari ini ada perempuan yang diikutsertakan dalam aksi," ujarnya yang turut serta dalam Gerakan Masyarakat untuk Demokrat tersebut.
Aparat penegak hukum diminta tidak mengendurkan sedikitpun tingkat kewaspadaannya sebab, Indonesia masih dalam masa tahun politik dan akan semakin memanas hingga tahun depan.
"Terorisme itu sudah satu persoalan sendiri. Ditambah akan ada Pilkada serentak dan Pemilu serentak yang juga memiliki persoalan sendiri sehingga semua pihak harus mewaspadai," kata Wahidah.
Dalam masa ini, isu politik identitas khususnya yang bernada agama akan menjadi satu hal yang sangat sensitif. Untuk itu pihaknya juga mengingatkan kepada Bawaslu untuk meningkatkan pengawasan mengantisipasi kampanye bernada SARA.
"Akhir-akhir ini provokasi berbasis sara jadi tren elektoral kita oleh kepentingan tertentu jadi kampanye efektif. Karena pendekatan agama dianggap efektif. Pendekatan agama disalahgunakan. Apalagi menjelang masa kampanye," paparnya. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved