Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Indonesia Sarang Akun Palsu Medsos

Aries Wijaksena
11/2/2018 23:38
Indonesia Sarang Akun Palsu Medsos
(Ilustrasi--thinkstock)

DIREKTUR Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran menyatakan Indonesia adalah salah satu sarang akun palsu media sosial.

Fadil mengungkapkan hal itu setelah menerima data temuan dari Facebook hasil pemantauan selama 2017.

"Perusahaan media sosial terbesar di dunia tersebut menyebut Indonesia merupakan salah satu negara sarang akun palsu atau duplikat. Negara lain yang mendapat catatan merah dari perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini adalah India dan Filipina," kata Fadil di Jakarta, Minggu (11/2).

Berdasar data Facebook, akhir Desember 2017, akun palsu atau duplikat sebanyak 200 juta akun. Pada kuartal IV/2017 Facebook memperkirakan akun palsu atau duplikat mencapai sekitar 10% pengguna aktif bulanan (MAU) di penjuru dunia. Hingga 31 Desember 2017 situs media sosial itu memiliki 2,13 miliar MAU.

"Besarnya akun palsu atau duplikat hampir dipastikan searah dengan ancaman kejahatan dunia maya, termasuk hoax. Penyebaran hoax tidak lepas dari banyak pengguna media sosial yang menggunakan akun palsu atau anonim," katanya.

Menurut Fadil, para pengguna akun palsu itu secara tidak bertanggung jawab menggunakan media sosial untuk melakukan provokasi dan fitnah untuk kepentingan tertentu. Awalnya jumlah akun anonim di media sosial masih sangat sedikit.

Namun, setelah polisi mulai melakukan penangkapan terhadap pemilik akun yang menyebarkan hoax di media sosial, mereka yang beralih ke akun anonim semakin banyak.

"Dari kenyataan tersebut, terlihat bahwa dunia media sosial sudah sangat terpolitisasi sedemikian rupa. Dengan kata lain, media sosial dianggap sebagai salah satu instrumen untuk menjatuhkan lawan politik dengan cara menyebar informasi bohong, fitnah, black campaign, atau hoax," ujarnya.

"Indikator sederhananya adalah akun palsu tadi. Logikanya, informasi valid tidak memerlukan akun palsu. Hanya informasi palsu lah yang membutuhkan akun palsu. Oleh karenanya, bagi masyarakat pengguna media sosial, identitas dan validitas akun facebook perlu dijadikan salah satu faktor penting untuk menguji palsu atau tidaknya sebuah informasi yang mereka sebarkan," tutupnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya