Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

90% Kepala Daerah Pecah Kongsi

Sonya Michaella
10/2/2018 12:30
90% Kepala Daerah Pecah Kongsi
(Ilustrasi)

SEBANYAK 90% kepala daerah disebut pecah kongsi dengan wakilnya. Beda visi misi menjadi faktor utama perseteruan kepala daerah dan wakilnya.

Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri periode 2010-2014, Djohermansyah Djohan mengatakan, kinerja kepala daerah seperti gubernur, bupati dan wali kota tidak lepas dari gerak wakilnya. Namun, hampir 90% kepala daerah dan wakilnya pecah kongsi di tengah jalan.

“Kita harus menata kembali sistem pemilihan. Bagaimana memilih kepala daerah dan wakilnya yang benar-benar mumpuni, tidak hanya soal popularitas dan mana yang kita senangi,” kata Djohan dalam diskusi Perspektif Indonesia di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu (10/2).

Calon kepala daerah dan wakilnya harus memiliki visi dan misi yang sama. Bukan sekadar visi misi yang diperlihatkan dan dijanjikan kepada rakyat untuk memenangkan pertarungan.

“Banyak sekali yang berpasangan tetapi tidak ada chemistry-nya. Asal saja yang penting ada pasangan dan seolah-olah sama visi misinya. Kalau seperti itu selamat datang pecah kongsi,” kata Djohan.

Jika serius membangun daerah, kata dia, calon kepala daerah dan wakilnya harus serius mempersiapkan hal tersebut.

Ia menyebutkan, calon kepala daerah dan wakilnya sebaiknya memiliki latar belakang yang sesuai untuk memimpin.

“Jadi, kepala daerah dan wakil bisa benar-benar bersinergi untuk membangun daerah. Tidak hanya menggebu-gebu waktu berkampanye,” ujarnya. (MTVN/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya