Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kapolri: Terorisme Global Bisa Dihadapi Dengan Pendekatan Lunak

MICOM
01/11/2017 11:15
Kapolri: Terorisme Global Bisa Dihadapi Dengan Pendekatan Lunak
(Kapolri Jenderal Tito Karnavian -- MI/Ramdani)

INDONESIA melihat pentingnya konsep strategi soft approach (pendekatan lunak) dalam menghadapi terorisme global, selain juga mengandalkan hard approach.

Demikian poin penting yang dikemukakan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dalam Panel Discussion yang diselenggarakan di Markas PBB, New York, AS pada Senin (30/10). Pada, panel diskusi tersebut, tampil sebagai moderator adalah permanent representative of Indonesia for the United Nations HE. Dian Triansyah Djani, sebagai Keynote Remarks Chief of Policy and Coordinating Unit UNOCT Rafiuddin Shah (Pakistan).

Kapolri tampil dalam kesempatan sebagai panelis kedua setelah permanent representative of Singapore for United Nations HE Burhan Gafoor. Dalam pemaparannya, Tito menjelaskan fenomena terorisme global kontemporer dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama yakni saat kemunculan Al Qaeda sebagai jaringan kelompok terorisme global pertama kali di dunia. Gelombang kedua sejak 2014 saat ISIS muncul sebagai ancaman baru bagi keamanan dunia.

Pada diskusi yang dihadiri 52 perwakilan negara tersebut, penjelasan Kapolri tentang pentingnya konsep strategi soft approach dalam menghadapi terorisme disambut antusias oleh peserta yang hadir. Terlebih ketika Kapolri menyampaikan adanya penurunan kualitas dan jumlah serangan teror yang terjadi di Indonesia, mengingat terorisme global tidak mungkin diselesaikan hanya dengan penggunaan senjata.

Dalam pendekatan lunak ini, Tito menjelaskan sedikitnya ada lima langkah yang bisa ditempuh, yakni kontra radikalisasi, deradikalisasi, kontra ideologi, menetralisir saluran dan menetralisir situasi yang mendukung penyebaran paham radikal.

Pada akhir diskusi, Kapolri menyampaikan pesan penting kepada PBB tentang perlunya menjaga perdamaian dunia khususnya di negara-negara Islam. PBB perlu memprioritaskan penyelesaian konflik terkait warga Muslim karena ideologi radikal akan berkembang aktif dan mendapat panggung jika terjadi konflik tersebut.

Selain mengikuti Panel Discussion , Kapolri juga menyempatkan diri untuk melakukan pembicaraan dengan USG Dept. field support Atul Khare untuk membicarakan kelanjutan pengiriman pasukan Polri untuk misi perdamaian dunia. Kapolri juga bertemu dengan USG UNOCT Vladimir Voronkov guna sharing informasi tentang penanganan terorisme global.

Pada kesempatan itu Voronkov menawarkan Jenderal Tito untuk berbicara dalam forum khusus yang diikuti semua negara anggota PBB tentang terorisme yang diadakan PBB pada Juni 2018 mendatang di New York.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya