Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Menlu Retno: Media Punya Peran Menyampaikan Harmoni

17/10/2017 16:47
Menlu Retno: Media Punya Peran Menyampaikan Harmoni
(Ist)

SEBAGAI negeri yang majemuk, Indonesia tidak memiliki pilihan lain dan harus memiliki harmoni dan kerukunan untuk mempertahankan negara ini. Media memiliki peran yang strategis untuk menumbuhkan pola pikir yang damai.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengemukakan hal itu dalam Conference on Religion Journalism: Reporting Religion on Asia yang diselenggarakan Universitas Multimedia Nusantara bekerja sama dengan International Association of Religion Journalists (IARJ), dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), 17-19 Oktober 2017 di Tangerang Selatan.

Menurut Retno kerukunan harus ada, tapi tidak akan ada dengan sendirinya. Harus ditumbuhkan.

"Media juga harus berperan. Sebab media mempunyai peran yang kuat untuk memberikan pola pikir masyarakat, termasuk pola pikir damai," ujarnya.

Dalam tataran global, Retno mengatakan sangat khawatir pada tiga hal nyata. Pertama intoleransi, terutama keterkaitan yang keliru antara Islam dan ekstrimisme, kekerasan, bahkan terorisme. "Karena semua agama mengajarkan kerukunan," imbuhnya.

Kedua penyalahgunaan ajaran agama untuk tujuan tidak manusiawi. Dan, ketiga penggunaan media sosial untuk menyebarkan hoax. Karena itu pula, ujar Retno, Kemenlu mempunyai program untuk anak muda agar terlibat dalam memerangi hoax. "Karena itu, sekali lagi, media mempunyai peran dalam menyampaikan harmoni, toleransi dan perdamaian," tegas Menlu.

Pada kesempatan tersebut Menlu Retno mengutarakan bagaimana 'DNA' diplomasi Indonesia dijalankan oleh kementerian yang dipimpinnya.

"Saya dan Kementerian yang saya pimpin selama ini membangun dialog antarumat beragama. Ini sudah menjadi DNA dari diplomasi Indonesia," ujar Menlu Retno yang berlatarbelakang diplomat karier ini. Menurut dia bagaimana Indonesia harus melakukan kerja sama antarumat beragama dan budaya.

Menlu menuturkan bagaimana diplomasi dijalankan belum lama ini. Mei 2017, ujarnya, adalah pertama kali kami dialog antariman dengan Myanmar. "Kami juga untuk pertama kalinya menyelenggarakan dialog antaragama dengan Singapura pada Juli 2017 dan merayakan ulang tahun ke-50 diplomasi antarnegara."

Pada Oktober, imbuhnya, satu lagi dialog antarumat beragama dijalin dengan Austria."Kami juga aktif dalam dialog antarumat beragama dan budaya di Asean dan Afrika, dalam forum tidak resmi di Korea, Meksiko dan lain-lain."

Lebih lanjut Menlu Retno mengatakan pada 2016 Indonesia mencanangkan prakasa baru yakni pemberdayaan perdamaian lewat bentuk digital sebagai kampanye kontra narasi terhadap ideologi ekstrimis.

"Ada banyak hal terjadi pada diplomasi Indonesia, diplomasi kemanusiaan dan antarumat beragama. 5 pekan lalu saya melakukan diplomasi maraton untuk kemanusiaan," ujar Retno.

Diplomasi yang dimaksud ialah pada saat Menlu ke Myanmar dan Bangladesh untuk berdiskusi perkembangan di negara bagian Rakhine. "Lalu saya pergi ke New York, AS untuk menghadiri pertemuan majelis umum PBB selama 10 hari," imbuhnya.

Tidak itu saja. Menlu Retno mengatakan ada 115 pertemuan yang dia hadiri. Sebagian dari pertemuan adalah membahas dialog antarumat beragama.

"Dari New York saya melakukan pertemuan di Tunisia untuk membicarakan lanjutan forum demokrasi di Bali," ucapnya.

Di Pulau Dewata tersebut Indonesia dan negara-negara yang hadir bertukarpikiran soal demokrasi seperti membahas negara mayoritas muslim seperti Indonesia. "Demokrasi dengan Islam itu saling kompatibel dan bisa berjalan," tegasnya.

Dari Bali, Menlu Retno menuju Jornadia berdiskusi membahas Palestina. "Jadi (ada dalam konferensi ini) bukan hal kebetulan. Dialog antarumat beragama dan kebebasan beragama sudah menjadi sorotan dalam kunjungan saya akhir-akhir ini," pungkasnya.(RO/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya