Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGHADAPI kontestasi Pilkada 2018, Presiden Joko Widodo mengimbau agar pesta demokrasi tersebut jangan sampai mengoyak perbedaan suku, agama dan keberagaman yang dimiliki Indonesia.
Oleh karena itu, Presiden, mendorong Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) mengambil peran membantu pemerintah menghadapi tahun politik pada 2018-2019. Pasalnya, posisi PKK cukup sentral karena kerap bersinggungan langsung dengan masyarakat.
"Kita akan ada kontestasi politik. Jangan sampai ada perbedaan suku, agama kemudian dikipas-kipas. Nah bagian yang pintar mendinginkan suasana ya ibu-ibu. Bapak-bapaknya panas-panasin, ibu-ibunya ngademin," ujar Presiden ketika menghadiri Acara Puncak Peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-45 dan Jambore Nasional Kader PKK, di Ballroom Mercure Hotel, Ancol, Jakarta, tadi malam.
Masyarakat, sambung Presiden, harus terus diingatkan bahwa Indonesia ialah negara besar yang memiliki 17 ribu pulau, 714 suku, serta lebih dari 1.100 bahasa lokal.
Menurutnya, Indonesia bisa menjadi bangsa besar selama merawat keberagaman sebagai kekayaan bangsa, bukan sumber perpecacahan. Ia tak ingin antar-tetangga saling mencela, memfitnah dan menjelekkan karena perbedaan.
"Berikan kesadaran itu, pemahaman itu ke masyarakat. Kita jelaskan keragaman dan berbeda agama kita bisa hidup berdampingan dan bisa bersatu dalam NKRI," tandasnya yang didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo dalam acara tersebut.
Pada kesempatan itu, Presiden juga mengingatkan peran keluarga dalam menghadapi bonus demografi pada 2045. Namun, bonus demografi itu bisa berubah menjadi petaka jika sumber daya manusia tidak berkualitas.
Menciptakan SDM berkualitas dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil masyarakat. Hal itu bisa dimulai dengan memperhatikan pendidikan, gizi dan kesehatan anak pada usia 1-12 tahun. Selain itu, pembentukkan mental dan karakter anak juga berpengaruh menghadapi kompetisi global.
Jokowi menekankan, penentu pembangunan bukan lagi sumber daya alam, melainkan kualitas sumber daya manusia.
"Negeri ini menjadi kuat, hebat, tidak lepas dari peran keluarga di negara kita. Karakter-karakter emas itu berada pada umur 1-12 tahun. Begitu kita keliru pendidikan di umur-umur ini, ya sudah lepas kesempatan," tandasnya.
Dalam rangka menyiapkan tunas-tunas bangsa yang unggul, lanjut Presiden, pemerintah mendukung keluarga dengan sejumlah program kesejahteraan, seperti Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar hingga Program Keluarga Harapan. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved