Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Said Aqil Siradj: Jangan Seret Konflik Rohingya ke Tanah Air

Rudy Polycarpus
05/9/2017 18:46
Said Aqil Siradj: Jangan Seret Konflik Rohingya ke Tanah Air
(Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj . MI/ROMMY PUJIANTO)

KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyerukan konflik dan krisis kemanusiaan warga Ronghiya di Rakhine, Myanmar tidak merambat ke dalam politik dalam negeri. Aqil berharap, masyarakat Indonesia bisa memilah dan memahami kompleksitas situasi warga Ronghiya secara jernih.

"Senangannya Indonesia gitu ya, agama campur politik. Itu salah. Agama ya agama, politik adalah politik. Jadi kita memandang kasus di sana itu politik dan gap sosial yang lebar," ujarnya seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/9).

NU, jelas Aqil, mendukung upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah RI membantu warga Rohingya serta mengurangi konflik kemanusian di sana. Menurut Aqil, perwakilan NU telah berperan aktif membawa misi kemanusiaan di bawah bendera Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) yang dipimpin Yusuf Ali. Organisasi itu menjalin kerja sama dengan Kementerian Luar Negeri yang dipimpin Menlu Retno Marsudi.

"Ketua AKIM itu dari NU yang membawahi atau mengkomandoi yang memimpin 11 ormas. Bu Retno juga membawa poin-poin yang sifatnya kemanusiaan. Tidak pandang agamanya atau kewarganegaraannya," ujarnya.

Untuk saat ini, lanjut Aqil, NU mendukung pendeketan-pendekatan diplomasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Myanmar.

"Kalau sampai misi Bu Retno ini tidak didengar, atau belum ada hasilnya, bahkan semakin parah, maka Presiden akan mengundang Dubes Myanmar," ujarnya.

Terkait rencana sekelompok masyarakat yang ingin berunjur rasa di Candi Borobudur, Aqil menilai tindakan tersebut sudah melebar. Pasalnya, Candi Borobudur merupakan identitas kekayaan peradaban Nusantara yang tidak terkait dengan tragedi kemanusian Rohingya.

"Itu salah alamat. Kita memandang Borobudur jangan memandang agamanya apa. Borobudur dan Masjid Cheng Ho itu kekayaan budaya bangsa umat Nusantara ini. Sebelum ada Indonesia namanya kan Nusantara. Kita ini bangsa yang toleran, umat Islam yang toleran, Islam Nusantara," pungkas Aqil. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya