Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTEMUAN tokoh bangsa bukan hanya perlu ditradisikan, melainkan juga harus ditindaklanjuti ke tingkat masyarakat. Tanpa itu, silaturahim itu hanya akan menjadi wacana.
Pengamat politik dari Universitas Paramadina Toto Sugiarto mengemukakan hal itu ketika dihubungi Media Indonesia, Kamis (24/8) malam.
“Kalau mau benar-benar pertemuan sampai ke akar, berarti kan secara teknis ada pertemuan lanjutan di bawah, pertemuan itu bisa dalam bentuk silaturahim. Isinya ialah menindaklanjuti pertemuan di tingkat nasional,” terangnya.
Pertemuan tokoh bangsa, menurut Toto, memang semestinya tidak hanya dilakukan antara Presiden Joko Widodo dan para elite partai politik, tetapi juga dengan para tokoh agama. Seperti yang telah dimulai oleh Presiden, pertemuan tersebut bisa dilakukan sebagai respons untuk menanggapi suatu masalah yang terjadi di masyarakat.
“Misalnya, ada kekhawatiran masyarakat akan terpecah atau terbelah antarkalangan karena kontestasi politik. Itu mengkhawatirkan kalau dibiarkan. Jadi, pertemuan antarelite itu bagus, tidak hanya pertemuan dengan ketua parpol, tapi juga mengikutsertakan ulama, pastur, untuk membicarakan hal tersebut,” terangnya.
Sebelumnya, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo berupaya mentradisikan diskusi dengan tokoh-tokoh nasional guna membahas masalah kebangsaan.
“Presiden pernah menyampaikan bahwa dia ingin mentradisikan untuk diskusi dengan tokoh-tokoh bangsa. Caranya ialah bertemu dengan tokoh-tokoh itu. Ide pertemuan antartokoh bangsa itu pernah terlontar sejak beberapa waktu lalu,” kata Johan.
Selama ini, kata Johan, Presiden pun sebenarnya juga sudah melakukan pertemuan dan diskusi dengan tokoh-tokoh nasional untuk membahas masalah kebangsaan. Menurutnya, Jokowi memang sosok yang ingin merangkul semua tokoh sehingga dapat menyerap banyak masukan.
Upaya Jokowi merangkul semua tokoh tersebut pun membuat hari kemerdekaan, Kamis (17/8), menjadi momen langka dan bersejarah. Itu pertama kalinya Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri peringatan Hari Kemerdekaan pascaberkuasa 10 tahun.
Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri juga tidak pernah hadir di Istana selama satu dekade SBY menjabat presiden.
Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengakui upaya itu mulai dilakukan ketika Presiden Joko Widodo mengundang mereka makan siang secara terpisah beberapa waktu lalu.
Menurutnya, diplomasi meja makan tersebut pada akhirnya memudahkan tugas Sekretariat Negara untuk mengundang para mantan presiden menghadiri HUT ke-72 RI. (Nur/P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved