Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH mengungkap sindikat pelaku penyebar ujaran kebencian dari kelompok Saracen, aparat hukum juga diminta membongkar sindikat lainnya hingga kepada pihak yang memanfaatkan jaringan itu.
“Ini tidak hanya bertabrakan dengan UU ITE dan sejenisnya, tapi tentu bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa kalau tindakan ini dibiarkan. Maka Polri harus mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi SP di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.
Presiden, sambung Johan, dalam sejumlah kesempatan mengingatkan masyarakat supaya mengedepankan budaya santun dalam bermedia sosial. Kekhawatiran Presiden disebabkan berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian yang kian berseliweran sehingga memicu perpecahan antarmasyarakat.
“Kan sudah pernah diingatkan Presiden agar menggunakan medsos secara santun. Tidak saling menghina, menghujat, menghina karena kita itu bersaudara.”
Dukungan kepada Polri untuk mengusut tuntas kasus ujaran kebencian dan penyebaran hoaks ini juga disampaikan anggota Komisi III DPR Arsul Sani.
“Saya harapkan polisi dapat bertindak cepat membongkar habis seluruh jaringan yang men-support Saracen sehingga semua kegiatan medsos yang bernada hoaks memecah belah bangsa dapat dihancurleburkan,” ujarnya.
Lebih lanjut Arsul menyarankan para pengguna akun yang masuk kelompok Saracen ditindak tegas sebab para pelaku sering kali membuat keresahan yang mengarah pada perpecahan dengan isu-isu SARA.
Untuk mengantisipasi akun-akun penyebar ujaran kebencian tersebut, menurutnya, diperlukan sinergi dari sejumlah lembaga seperti Polri, Kemenkominfo, dan BIN.
“Mereka ini sepertinya mindset sudah rusak, tujuannya pemerintah itu jelek, ini jelek, menyebarkan isu SARA, dan itu kan membuat keresahan akhirnya timbul isu SARA yang bisa mengarah ke perpecahan bangsa.”
Ketua DPR Setya Novanto mengaku tidak habis pikir ada orang yang mencari nafkah dari menyebarkan konten bermuatan ujaran kebencian dan hoaks.
“Kami dukung dan berharap pihak kepolisian tidak hanya berhenti pada pembongkaran sindikat Saracen,” ujarnya.
Novanto menuturkan polisi perlu membongkar pihak yang memesan konten hoaks dan fitnah ke Saracen. Kepolisian juga bisa memperluas proses penegakan hukum dengan mencari tahu dan membongkar kemungkinan adanya sindikat lain yang melakukan kegiatan seperti Saracen.
Kejar sindikat lain
Kepala Subbagian Operasi Satgas Patroli Siber Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri AKB Susatyo Purnomo menegaskan pengusutan atas sindikat penyebar ujaran kebencian tidak berhenti di Saracen.
“Kelompok Saracen ini hanya salah satu dari banyak kelompok yang masih kami cari dan kejar,” kata Susatyo, kemarin.
Seusai pengungkapan sindikat Saracen, beredar nama-nama dari struktur organisasi penyebar ujaran kebencian itu.
Selain nama ketiga tersangka, terdapat sejumlah nama seperti pensiunan jenderal yang santer dibicarakan sebagai bakal calon di Pilgub Banten 2017, pengacara, dan aktivis Aksi Bela Islam 212.
“(Nama-nama itu) masih perlu kami kaji dan pelajari, apakah benar atau hanya karangan,” kata Susatyo. (Nov/Nic/X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved