Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA MPR RI Zulkifli Hasan berharap Pancasila dan UUD 1945 tidak dicampakkan atau hanya menjadi simbol. Keduanya bukan pula alat untuk menyingkirkan pihak yang berbeda pandangan. Menurutnya, Pancasila dan UUD 1945 merupakan rujukan bersama dalam bernegara dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
"Tidak boleh membiarkan Indonesia ini robek dan koyak. Ihwal ideologi negara, falsafah negara, dan dasar negara telah final. Kami percaya, Pancasila dan UUD 1945 bukanlah palugada terhadap pihak yang tidak satu pandangan, tidak satu barisan, atau tidak satu partai dalam berindonesia," papar Zulkifli, di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (16/8).
Zulkifli mengatakan, Pancasila dan UUD 1945 merupakan muara bersama dari beragam mata air. Karena itulah Pancasila disebut sebagai ideologi terbuka.
"Kita ingat persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta yang tetap hangat dan akrab, meski mereka berbeda pandangan yang tidak ada titik temunya tentang demokrasi. Keteladanan para Bapak Bangsa tersebut sangat penting untuk dibuka lagi di masa kini," tuturnya.
Pihaknya mengajak semua pihak merenungkan kata-kata yang diwasiatkan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari. Beliau berwasiat bahwa manusia harus bersatu, agar tercipta kebaikan dan kesejahteraan, dan agar terhindar dari kehancuran dan bahaya.
Zulkifli menilai bangsa Indonesia tengah dihadapkan pada kondisi memprihatinkan akibat abai pada keteladanan para bapak bangsa. Rasa empati pada sesama anak-anak bangsa pun terpangkas oleh sikap menganggap diri yang paling benar.
"Padahal, para bapak bangsa kita sudah mencontohkan bahwa perbedaan pendapat dalam bernegara tidak membuat hubungan pribadi merenggang dan menjauh. Saat di balik pangggung politik mereka adalah pribadi-pribadi yang agung, rendah hati, dan bersahabat. Di balik panggung tersebut, para pendiri bangsa ini tidak menyimpan kedengkian dan dendam," ujarnya.
Lebih lanjut, Zulkifli menegaskan Indonesia adalah bangsa besar. Bukan hanya berupa gagasan, tapi juga besar dalam perilaku sehari-hari, keteladanan, dan budaya serta nilai-nilai. "Karena itu, jika ada pihak-pihak yang melakukan klaim-klaim sebagai yang pancasilais dan menuduh yang lain tidak pancasilais, yang bersangkutan harus belajar lagi tentang sejarah Pancasila. Mari kita berlaku bijak, dewasa, dan satria," pungkasnya.
Tolak intoleransi
Di kesempatan terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Segenap rakyat harus menepis rongrongan kelompok-kelompok radikal dan kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia.
"Dasar negara kita, yakni Pancasila sudah final dan NKRI sudah final," tegas Ma'ruf dalam sambut-annya pada acara Doa Bersama dan Muroja'ah, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, kemarin (Kamis, 17/8).
Ma'ruf mengajak masyarakat agar menjaga keutuhan bangsa dari kelompok-kelompok intoleran yang ingin merusak toleransi umat beragama yang sudah terjalin baik selama ini. Demikian pula kelompok fanatik yang sangat berbahaya bagi Indonesia.(Ant/P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved