Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Megawati Bernostalgia dengan Lukisan Istana

11/8/2017 07:42
Megawati Bernostalgia dengan Lukisan Istana
(MI/M IRFAN)

PRESIDEN kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri menyaksikan pameran lukisan koleksi Presiden pertama Soekarno yang telah dihibahkan kepada negara yang ditampilkan di Galeri Nasional, Jakarta, kemarin.

Dalam kunjungannya, Megawati yang juga merupakan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan menyampaikan pentingnya sebuah rasa dalam setiap karya seni.

“Berkesenian itu bukan hanya karena tren. Kalau orang Jawa ada yang namanya roso. Ini sulit diterjemahkan, tetapi mungkin orang tua mengerti apa yang dimaksud roso itu,” ujar Megawati.

Lukisan yang ditampilkan di Galeri Nasional berjumlah 48 buah merupakan karya beragam pelukis terkenal yang diberikan kepada Soekarno. Soekarno kemudian menghibahkan lukisan tersebut kepada negara untuk dipajang di Istana Kepresidenan, baik di Jakarta, Bogor, Yogyakarta, dan Bali.

Megawati tampak menikmati lukisan-lukisan milik ayahnya itu sembari berdialog dengan salah satu kuratornya, yakni Asikin Hasan. Kepada wartawan, Asikin menjelaskan bahwa Megawati merupakan tokoh yang sangat mengenal lukisan-lukisan milik Istana Kepresidenan ini karena Mega sejak kecil sudah tinggal di lingkungan Istana Kepresidenan.

“Beliau akrab sekali karena sejak kecil sudah melihat lukisan-lukisan itu. Dengan beberapa pelukisnya pun Ibu Mega kenal,” kata Asikin.

Menurut Asikin, Megawati mengusulkan agar pameran lukisan diberikan deskripsi mengenai lokasi yang ditampilkan dalam lukisan. “Memang cukup bagus juga kalau menampilkan deskripsi terutama mengenai lukisan pemandangan,” jelas dia.

Asikin mengatakan lukisan milik Istana Kepresidenan sebenarnya berjumlah 3.000 lebih. Untuk pameran kali ini dipilih 48 lukisan.

“Kami memilih lukisan yang kira-kira sangat kecil potensinya untuk rusak dan sesuai dengan tema pameran kali ini Senandung Ibu Pertiwi,” kata dia.

Dalam pameran itu terdapat sejumlah lukisan berusia tua, antara lain lukisan Perkawinan Adat Rusia karya pelukis abad ke-19 Konstantin Eforovick Makovsky, hadiah dari Rakyat Rusia melalui Pemimpin Uni Republik-Republik Sosialis Soviet Nikita Khrushchev kepada Soekarno.

Lukisan itu berusia 125 tahun dan ditampilkan dalam bentuk LED TV karena lukisan aslinya yang berada di Istana Bogor tidak mungkin dihadirkan dalam pameran.

Kemudian, lukisan berjudul Pantai Flores karya Basoeki Abdullah tahun 1942. Menurut Asikin, lukisan ini berawal dari lukisan Bung Karno di atas kertas, kemudian Bung Karno meminta Basoeki Abdullah melukis kembali di atas kanvas dengan ukuran besar.

“Jadi sangat menarik Basoeki Abdullah melukis berdasarkan pandangan mata Bung Karno, karena Basoeki Abdullah sendiri tidak pernah ke Flores,” ujar Asikin.

Selain itu, ada lukisan berjudul Harimau Minum karya Raden Saleh 1863. Lukisan ini merupakan salah satu lukisan favorit Bung Karno karena sosok harimau diibaratkan sebagai Bung Karno yang memiliki jiwa pemimpin.

Selanjutnya dalam pameran juga ditampilkan sejumlah lukisan perempuan, seperti Wanita Berkebaya Hijau karya M Thamdjidin 1955, lukisan Wanita Berkebaya Kuning karya Sumardi, 1964 serta lukisan Njai Roro Kidul karya Basoeki Abdullah 1955. (Nov/Ant/P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya