Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUBAHAN dunia yang begitu cepat menjadi tantangan bagi Mahkamah Konstitusi (MK) di setiap negara. Lembaga itu harus mampu memberikan pemahaman kepada generasi muda sekaligus menginterpretasikan konstitusi agar tetap menjadi pegangan dan inspirasi bangsa.
Demikian pernyataan Presiden Joko Widodo saat membuka simposium internasional bertajuk Mahkamah Konstitusi sebagai Pengawal Ideologi dan Demokrasi dalam Masyarakat Majemuk, di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, kemarin.
Simposium tersebut merupakan kegiatan puncak sekaligus menandai berakhirnya masa kepemimpinan Arief Hidayat (Ketua MK RI) sebagai Presiden Asosiasi Mahkamah Konstitusi dan Institusi Sejenis se-Asia (The Association of Asian Constitutional Courts and Equivalent Institutions/AACC).
Selain anggota AACC, simposium itu juga diikuti perwakilan tujuh negara sahabat di kawasan Asia, Eropa, dan Afrika. Turut hadir pula lebih 190 peserta dalam negeri yang terdiri dari anggota Komisi III DPR, pejabat kementerian dan lembaga, praktisi hukum, dan akademisi dari seluruh perguruan tinggi se-Indonesia.
Di hadapan peserta simposium, Jokowi mengatakan tantangan dalam berkonstitusi tidak sepenuhnya mudah. Dunia berubah dengan cepat dan banyak hal baru yang muncul. Tantangan baru itu seperti radikalisme, terorisme, perdagangan manusia, penyelundupan senjata, dan kejahatan siber.
Lebih lanjut, Jokowi menyatakan sekarang ini menjadi eranya anak muda generasi milenium, generasi ‘Y’ yang memiliki karakteristik dan pola pikir berbeda dengan generasi sebelumnya. Hal itu menjadi tantangan tersendiri, bagaimana nilai-nilai konstitusi dipahami secara baik oleh generasi muda. Di tengah terpaan gelombang tantangan baru itu, peran dan posisi MK di setiap negara semakin penting.
“Mahkamah konstitusi menjadi pijar penerang pemahaman sebuah negara mengenai pandangan awal penyusun konstitusi untuk melaksanakan semangat dan niat mulia para pendiri bangsa,” ujar Presiden.
Oleh sebab itu, Jokowi menyambut baik pelaksanaan simposium internasional itu. Dia berharap forum itu bisa menjadi ajang saling belajar dan berbagi pengalaman antarnegara, dan hasilnya bisa menguatkan Mahkamah Konstitusi masing-masing.
Negara majemuk
Ketua MK Arief Hidayat berharap simposium kali ini menghasilkan sesuatu guna meningkatkan kapasitas lembaga MK. Tema yang diangkat dalam simposium kali ini dinilai relevan untuk Indonesia sebagai negara majemuk.
Ia menilai sampai saat ini keberagaman Indonesia tetap terjaga. Itu merupakan titik fundamental pendirian negara Indonesia. Dalam pelaksanaannya, MK akan memastikan bahwa hukum berjalan sesuai kaidah Pancasila dan UUD 1945, toleransi beragama, serta mendukung pembangunan demokrasi dan ekonomi.
“Bagi Indonesia, ini bermanfaat untuk menguatkan Pancasila dan menjadi inspirasi dalam mewujudkan keadilan dan kedamaian dunia,” tukasnya.
Arief juga mengemukakan harapannya kepada Ketua Mahkamah Persekutuan Malaysia, Tan Sri Mohammad Raus Sharif, yang secara musyawarah terpilih sebagai Presiden AACC yang baru untuk dua tahun ke depan.
“Mudah-mudahan di masa mendatang jumlah anggota AACC semakin bertambah. Saat ini anggota AACC baru 16, padahal negara di Asia ini banyak sekali,” paparnya. (P-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved