Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Hakim Negara Malaysia Tan Sri Mohammad Raus Sharif terpilih sebagai Presiden Mahkamah Konstitusi Se-Asia (Association of Asian Constitutional Courts and Equivalent Institutions/AACC). Hal itu merupakan hasil pertemuan Rapat Dewan Anggota (BoMM) AACC yang berlangsung di Hotel Alila, Surakarta, kemarin.
“Hanya perlu 3 menit setelah (rapat) saya buka, melalui proses kesepakatan dan mufakat, akhirnya (Raus Sharif) bersedia,” ungkap Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat.
Menurut Arief, dari 13 negara anggota yang mengikuti rapat, tidak ada yang menolak untuk menyepakati Raus Sharif sebagai presiden baru untuk periode dua tahun mendatang. Apalagi Korea Selatan dan Turki yang pernah menyandang jabatan Presiden AACC juga mendorong Malaysia bersedia menerima kepercayaan tersebut.
Pemilihan presiden AACC sebetulnya telah digelar dalam kongres di Bali, tahun lalu. Namun, itu tidak membuahkan hasil sehingga Ketua MK Republik Indonesia Arief Hidayat didaulat untuk kembali menduduki jabatan tersebut.
“Sebenarnya Malaysia tidak keberatan (menjadi presiden). Hanya pada saat itu, masih ada masalah internal di negaranya yang harus dirampungkan, mereka belum bersedia. Sampai kemudian saya bersedia menerima jabatan perpanjangan setahun, yang berakhir Agustus ini,” terang Arief.
Yang menarik dari Rapat Dewan Anggota AACC di Surakarta, kemarin, muncul kesanggupan secara berurutan untuk menerima jabatan presiden setelah Malaysia. Yang pertama adalah Kazakhstan, lalu dua tahun berikutnya bergulir Mongolia, dan berikutnya Thailand.
Terpilihnya Raus Sharif itu, menurut Sekretaris Jenderal MK RI Guntur Hamzah, tidak terlepas dari proses pertemuan Sekretaris Jenderal AACC sehari sebelumnya.
“Ada lima tata cara atau metode pemilihan yang disepakati untuk memutuskan siapa presiden selanjutnya. Ternyata muncul sukarela dari Malaysia,” ungkap Guntur.
Arief Hidayat mengaku bangga bahwa nilai-nilai musyawarah mufakat yang merupakan budaya bangsa Indonesia turut merasuk ke AACC dalam proses pemilihan presiden. “Ini sungguh gejala baik bahwa nilai-nilai Pancasila ternyata bisa dipraktikkan di dalam berorganisasi setingkat AACC,” imbuh Arief.
Tambah anggota
Pada kepengurusan AACC oleh Malaysia, digulirkan mandat menambah keanggotaan yang lebih banyak lagi dari negara-negara yang ada di Asia. Selama kepemimpinan Indonesia, AACC telah mampu menambah dua anggota, yakni Kirgizstan dan Mongolia.
“Lalu ada perkembangan baru, seperti Laos dan Timor Leste sebagai negara yang demokratis dan berdasar konstitusi untuk berkeinginan masuk dan beberapa negara lain seperti India, Singapura, dan Sri Lanka” tutur Arief.
Meski Indonesia sudah tidak lagi memimpin AACC, peran negara ini masih besar dan signifikan seiring dengan ditetapkannya Jakarta sebagai satu dari sekretariat tetap AACC. Jakarta menangani bidang perencanaan dan koordinasi kegiatan, sedangkan Seoul merupakan sekretariat tetap bidang riset, dan sekretariat tetap bidang pelatihan di Ankara, Turki. (P-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved