Senin 09 Januari 2023, 05:05 WIB

Lato-Lato dan Pendidikan

Azwar Anas Wakil Kepala SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe Bidang Kesiswaan | Opini
Lato-Lato dan Pendidikan

MI/Duta
Ilustrasi MI

 

PERMAINAN lato-lato saat ini sedang menjadi tren di kalangan anak-anak Indonesia. Permainan itu dimainkan berbagai kalangan, baik balita maupun anak-anak usia sekolah. Bahkan, dalam beberapa kesempatan juga terlihat remaja hingga orang dewasa ikut memainkannya.

Lato-lato merupakan permainan dengan dua buah bandulan berat yang terbuat dari plastik atau kayu dan digantung dengan tali yang disambung pada ujung bandulan tersebut. Cara bermainnya cukup sederhana, pemain tinggal mengayunkan lato-lato ke atas dan ke bawah hingga saling membentur dan membunyikan suara.

Permainan tersebut semakin viral di Indonesia saat ini karena beberapa faktor. Salah satunya ialah karena maraknya kampanye melalui media sosial. Lato-lato kian terkenal sejak Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengunggah aksinya bermain lato-lato bersama Presiden Jokowi di salah satu pasar di Subang, Jawa Barat. Unggahan dengan judul Ketika Presiden dan Gubernur Main Nok-Nok (sebutan lain untuk lato-lato) tersebut sampai saat ini setidaknya telah ditonton sekitar 5 juta warganet. Sontak hal itu menjadi viral hingga banyak masyarakat penasaran dengan permainan lato-lato dan mencoba untuk memainkannya.

 

Mengenal lato-lato

Permainan lato-lato diperkirakan muncul pada 1960-an dan mulai populer di Amerika Serikat pada 1970-an. Di Amerika permainan lato-lato dikenal dengan nama clackers. Tak jauh beda dengan lato-lato yang kita kenal sekarang, bentuk lato-lato yang populer di Amerika juga seperti demikian, hanya saja perbedaan yang tampak ialah pada bandulan.

Jika di Indonesia bandulan lato-lato dibuat dari plastik atau kayu, lato-lato yang sempat populer di Amerika zaman dulu justru terbuat dari material kaca. Karena itulah, permainan ini sempat dilarang otoritas pejabat sekolah setempat. Hal itu karena material kaca yang digunakan pada lato-lato memiliki risiko pecah dan berbahaya bagi anak-anak (Solopos.com).

Di Indonesia, lato-lato mulai terkenal di era 1990-an dan penyebutannya sendiri berasal dari bahasa Bugis. Berbeda dengan lato-lato tempo dulu di Amerika, versi Indonesia sekarang justru terbuat dari material ramah anak. Hal itu terbukti dari bahan plastik atau kayu yang digunakan. Bandulan berbahan plastik atau kayu berbahan ringan tersebut saat dibenturkan tidak akan pecah, justru akan menghasilkan bunyi lato-lato yang indah.

Apalagi jika dimainkan secara serentak dan bersamaan, suara permainan lato-lato menciptakan melodi yang indah dan dapat menjadi hiburan bagi sebagian orang. Tidak mengherankan jika lato-lato menjadi semakin populer, bahkan menjamurnya para pedagang musiman di pinggir jalan menjadi bukti bahwa permainan tersebut memang sedang benar-benar digandrungi.

 

Media belajar

Saat ini mulai banyak imbauan dari otoritas pendidikan setempat agar permainan lato-lato tidak dibawa ke sekolah. Imbauan itu kemudian diterjemahkan sebagai larangan. Sebenarnya, dasar hukum ataupun dasar akademik dari imbauan untuk tidak membawa lato-lato ke sekolah tidak ada. Alasannya terkesan mengada-ada dan mau gampangnya saja, yaitu karena lato-lato bukan alat atau media belajar, dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa karena berisik, dan alasan lain faktor keselamatan. Padahal, sekolah dan guru hanya memerlukan sedikit kreativitas, alat tersebut bisa menjadi media belajar selingan agar proses belajar mengajar tidak monoton.

Misalnya, gerakan dalam permainan lato-lato disinyalir juga menjadi pemicu untuk menstimulasi fungsi motorik anak. Saat bermain lato-lato, pemain harus menggerakkan tangannya dengan seimbang agar menghasilkan permainan yang baik. Saat gerakan ini berlangsung, setidaknya terjadi fungsi koordinasi antara kognitif dan motorik anak yang berdampak baik terhadap pencapaian perkembangannya.

Penelitian mutakhir membantu menjelaskan bagaimana gerakan secara langsung bermanfaat kepada sistem saraf yang bermuara kepada pembelajaran. Kegiatan otot, terutama kegiatan yang terkoordinasi, mampu menstimulasi produksi neurotrophin, yaitu substansi alami yang merangsang pertumbuhan sel-sel saraf dan meningkatkan jumlah koneksi saraf dalam otak sehingga memberikan dampak yang positif dalam pembelajaran (Jalaluddin, 2010).

Walker (2015) juga menambahkan, selain dapat membuat anak menjadi aktif dan menambah semangat dalam belajar, kegiatan fisik juga kaya akan manfaat bagi kesehatan dan perkembangan mereka sehingga dapat mengurangi penyakit kardiovaskular, memperbaiki fungsi kognitif (seperti ingatan dan perhatian), dan secara positif berpengaruh terhadap kesehatan mental. Alat ini cocok sekali digunakan untuk siswa PAUD, TK, dan sekolah dasar untuk melatih motorik kasar dan halus mereka.

Permainan lato-lato juga dapat meningkatkan perkembangan sosio-emosional anak. Lazimnya permainan lato-lato dimainkan secara serentak dan bersamaan dengan beberapa pemain lain. Terlebih saat ini perkembangan sosial anak perlu menjadi perhatian setelah adanya proses pembatasan sosial selama pandemi covid-19 berlangsung. Adanya permainan lato-lato telah merajut kembali persatuan sosial anak melalui permainan. Dalam hal ini kemampuan sosial anak akan meningkat seiring dengan banyaknya pergaulan bersama dengan anak lain.

Jika ditinjau dari perspektif ilmu pengetahuan, permainan lato-lato pada dasarnya menganut teori saintifik, khususnya fisika. Dalam permainan itu, hukum Newton 3 tampak ketika pemain menghentakkan tangan sehingga membuat dua buah bandulan saling memantul dan memukul satu sama lain (gaya aksi dan reaksi dari dua benda). Permainan lato-lato juga mengakibatkan terjadinya tumbukan lenting sempurna pada dua buah benda.

Hal itu terlihat dari benturan dua buah bandulan dari arah berlawanan, kemudian terpisah dan kembali ke daerah ia berasal dengan kecepatan yang sama. Karenanya, alat permainan lato-lato ini sangat cocok untuk dijadikan media pembelajaran di kelas bersama siswa guna merangsang pemahaman mereka terkait dengan konsep fisika di atas. Alat itu cocok untuk dijadikan media belajar IPA SMP maupun mata pelajaran fisika di level SMA.

Tentu saja kita juga harus memperhatikan faktor kenyamanan dan keselamatan. Meskipun lato-lato yang sedang marak dimainkan saat ini memiliki manfaat terhadap perkembangan anak, dua faktor ini tentu harus diperhatikan agar tidak menjadi alasan melarang anak-anak bermain. Apa pun itu, kita patut bersyukur atas populernya kembali lato-lato yang dapat mengalihkan perhatian anak-anak kita dari gawainya sesaat. Hal itu setidaknya menjadi indikasi bahwa permainan tradisional masih dapat mencuri perhatian anak-anak kita, jika kita—orang tua—mau memperkenalkan mereka dengan permainan-permainan tradisional dan memberi ruang kepada mereka untuk mengeksplorasinya.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Pemilu Ramah Koruptor

👤Reza Syawawi, Peneliti di Transparency International Indonesia 🕔Kamis 09 Februari 2023, 05:15 WIB
ADA kecenderungan, Mahkamah Konstitusi (MK) semakin sulit diandalkan untuk melahirkan putusan yang bisa dinilai sebagai putusan...
MI/Seno

Reindustrialisasi dan Ekosistemnya

👤Badri Munir Sukoco Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga 🕔Kamis 09 Februari 2023, 05:00 WIB
DALAM empat bulan terakhir, Presiden Joko Widodo memberikan perhatian terkait ekspor bahan mentah dan melarangnya, mulai nikel, bauksit,...
Dok Pribadi

Leitmotive Eliminasi Kusta

👤Perigrinus H Sebong, Pengajar FK Unika Soegijapranata 🕔Rabu 08 Februari 2023, 08:00 WIB
Salah satu ganjalan terbesar mencapai eliminasi kusta secara menyeluruh adalah leprostigma. Sumber leprostigma bisa dari stereotip agama,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya