Senin 27 Juni 2022, 23:05 WIB

Rendang dan Misidentifikasi

Wahyu Harjanto, Peneliti di Mindset Institute, Yogyakarta | Opini
Rendang dan Misidentifikasi

Dok pribadi
Wahyu Harjanto

 

SERGIO, pemilik warung makan Padang 'Babiambo' yang menjual rendang babi secara daring itu digelandang aparat Polsek Kelapa Gading, Jakarta, (10/6). Pemilik warung itu sudah tutup dua tahun lalu itu dicokok polisi setelah mendapat laporan dari dua orang anggota DPR Pusat asal Sumatera Barat Andre Rosiade (fraksi Gerindra) dan Guspardi (fraksi PAN). 

Adapun dasar aduan kedua politisi Senayan itu adalah bahwa Sergio dianggap telah menyakiti perasaan dan memancing amarah warga Minangkabau. Sergio dinilai tidak memiliki kepekaan sosial budaya dan hanya mau mendompleng popularitas kuliner 'khas' suku Minang. Sebuah tindakan menurut mereka yang layak diberi sanksi atau diperkarakan secara hukum.

Di era dan masyarakat yang telah sedemikian rupa dipenetrasi oleh media, kasus ini ibarat setetes bensin yang jatuh di atas bara api. Ia segera menyulut reaksi orang awak di rantau atau di homeland. Sergio dikecam, Andre Rosiade dan Guspardi dibenarkan. Fadli Zon (politisi Gerindra) dan Ade Irma Chaniago (politisi NasDem) adalah dua orang berdarah Minang yang mereaksi negatif kasus ini.

Menurut para pelapor dan pengecam, rumah makan padang tidak akan pernah mengolah dan menyajikan makanan haram. Rumah makan padang baik di dalam dan di luar negeri Minang tidak akan pernah menggunakan dan mengolah daging babi sebagai bahan makanan dan sajian kuliner 'khas' mereka. Tanpa mereka ucapkan, pandangan keagamaan (dalam hal ini Islam) ikut mewarnai pikiran itu.

Kasus ini segera mengingatkan bahwa penghuni abad 21 bernama bangsa Indonesia ini ternyata belum selesai dengan persoalan makanan. Generasi Indonesia masa kini yang telah sedemikian intim dengan pelbagai jenis makanan cepat saji di sejumlah situs konsumsi modern itu tiba-tiba merasa memiliki dan layak 'membela' makanan tradisional bernama rendang.

Fenomena di atas sejatinya mengingatkan kita pada pengalaman identifikasi orang di dalam masyarakat. Pengalaman yang mengacu pada penentuan batas-batas identitas secara psikososial. Di tengah pelbagai ragam tawaran identitas sebagaimana ditawarkan oleh modernitas dan wacana pluralisme sebagaimana diserukan negara, diam-diam mendorong orang menyesuaikan sekaligus menegaskan siapa dirinya. 

Identitas bentukan, tempat ego orang ditambatkan itu kelak akan mereka bawakan saat berhubungan dengan liyan (others). Identitas itu bisa sangat beragam. Orang (etnis) Minangkabau merasa pas dengan rendang sebagai wakil dirinya. Orang Manado memilih RW (rintek wuuk). Orang Flores cocok dengan sei. Orang Bali memilih lawar. Orang Singkawang merasa pas dengan bakpao dan sebagainya. 

Identifikasi juga bisa mengambil bahan bakar dari agama, dan identitas bentukan itu pun lalu lahir dari sana. Telinga kita akrab dengan beragam klaim identitas ini. Orang Minang mendaku diri atau identik dengan Islam. Orang Menado identik dengan Kristen. Orang Flores identik dengan Katolik. Orang Bali identik dengan Hindu. Orang Singkawang identik dengan Budha, dan orang Tioghoa dengan Konghucu.

Bahwa proses identifikasi itu tidak sekali terjadi melainkan senantiasa berulang, memungkinkan terjadinya percampuran identitas di dalam satu entitas sosial. Hasilnya, orang Minang merasa pas dengan rendang karena mereka pemeluk Islam. Orang Menado merasa pas RW karena mereka Kristen. Orang Bali suka lawar karena mereka Hindu. Orang Singkawang pas dengan bakpao karena mereka penganut Budha, dan orang Singkawang suka dengan minyak babi karena Konghucu.

Dari dua paparan terakhir di atas kiranya sudah tergambar dengan jelas bahwa proses identifikasi atau penentuan identitas itu sejatinya bermasalah. Proses psikososial yang selama ini terjadi di tengah masyarakat dan budaya mengendong cacat bawaan. Cacat jenis ini bukan sembarang cacat, tapi cacat yang bersifat primordial. Cacat bawaan itu tidak lain adalah misidentifikasi atau kekeliruan klaim.

Terkait dengan isu rendang babi yang dipantik oleh Sergio, misidentifikasi terletak pada kesilapan orang pada apa yang selama ini disebut dengan rendang. Rendang is often described as a rich dish of meat – most commonly  beef – that has been slow cooked and braised in a coconut milk seasoned with herb and spice mixture until the liquids evaporate and the meat turns dark brown and tender, becoming caramelized and infused with rich flavours. (Wikipedia)

Menempatkan rendang melulu sebagai kata benda sebagaimana disebutkan Wikipedia di atas kiranya justru menutupi pemahaman lain. Rendang ternyata bisa juga dipahami sebagai proses orang membuat makanan bernama rendang. Hal serupa terjadi pada tumis, gulai, atau sate. Orang bisa merendang, menumis, menggulai, dan menyate apa saja. Di Jogja ada sate gembus– sate berbahan baku ampas tahu, bukan daging.

Dari aras kuliner nusantara klaim bahwa satu makanan identik dengan satu etnik dan agama tertentu hanya akan berujung pada jalan buntu. Klaim semacam ini menutup jalan perkembangan dan pengembangan makanan di jagad kuliner yang justru sangat membutuhkan hal yang berkebalikan. Dalam hal ini orang dituntut terus melakukan inovasi, trial and error, layaknya bagian dari kebudayaan.

Dari aras pluralitas atau keragaman bangsa, klaim ini menutup ruang perbedaan dan komunikasi budaya. Dua hal yang disadari atau justru merupakan batu fondasi keragaman. Rendang tidak saja berkutat dengan persoalan daging apa yang hendak dimasak. Masih tersisa hal lain yang bisa dipertimbangkan; bumbu, cita rasa, tampilan, suasana, dan seribu macam pemaknaan lainnya. 

Rendang ala Minang yang mashur dan dahsyat rasanya itu konon memuat tiga unsur pemaknaan; kesabaran, keuletan, dan kebijaksanaan. Kesabaran diperlukan karena memasak (ingat, bukan rendangnya) perlu waktu lama. Keuletan diperlukan karena perlu mengaduk terus menerus agar santan tidak pecah. Kebijaksanaan diperlukan karena perlu paham mengatur api kapan besar dan kapan kecil. Dalam hal ini rendang tak ada beda dengan gudeg. 

Banyak orang yang tidak suka gudeg merundung salah satu sayur favorit orang Jogja (Jawa) ini. Ada yang bilang rasanya seperti kolak. Bahkan ada yang bilang bentuk dan warnanya seperti handuk tua yang lusuh. Tapi ada satu hal yang luput dari perundungan, bahwa gudheg tidak pernah risau mau dicampuri dengan daging apa. Ia siap dicampur dengan ceker ayam, kikil sapi, bahkan daging celeng hutan pedalaman sekali pun.

Baca Juga

MI/Duta

Merdeka sejak dari Pangan

👤AR Hakim Pemerhati sosial ekonomi 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 05:15 WIB
ANCAMAN krisis pangan kembali menjadi perhatian Presiden Joko...
MI/Seno

DPR dan Prolegnas: Sebuah Upaya Mendedahkan Persoalan

👤Willy Aditya Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 05:00 WIB
SESUNGGUHNYA term ‘percepatan’ dalam konteks kerja-kerja legislasi di DPR menyisakan sejumlah masalah...
MI/Susanto

Merajut Pembayaran Lintas Negara

👤Adhi Nugroho, Analis Bank Indonesia Kalimantan Selatan 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:20 WIB
PEMBAYARAN lintas negara atau cross-border payment tengah menjadi buah bibir di kalangan bank...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya