Senin 02 Mei 2022, 20:20 WIB

Silaturrahmi Idul Fitri

H Imam Nur Suharno, Kepala Divisi HRD dan Personalia Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat | Opini
Silaturrahmi Idul Fitri

Dok pribadi
H Imam Nur Suharno

 

TIDAK terasa waktu begitu cepat berlalu. Serasa baru kemarin bulan Ramadan datang menyapa, kini akan kembali meninggalkan kita umat Islam, dan hadir hari kemenangan yaitu hari raya Idul Fitri. 

Hari raya Idul Fitri menjadi sarana untuk silaturahmi bagi kaum muslimin. Namun dalam kondisi tertentu kegiatan silaturahmi tidak dapat dilakukan secara langsung dengan berbagai sebab. Jika demikian, silaturrahmi dapat dilakukan secara virtual. Dengan demikian, tidak ada alasan lagi bagi kaum muslimin untuk tidak melakukan silaturrahmi. Jika sudah ada niat dalam hati, silaturahmi itu akan dapat terlaksana meskipun secara virtual. 

Kini kaum muslimin bernafas lega setelah pemerintah mengizinkan melakukan mudik Lebaran. Artinya semarak silaturahmi di kampung halaman akan semakin hangat setelah penantian selama dua tahun tak mudik karena pandemi covid-19. Dalam Alquran surat an-Nisa [4] ayat 36, setelah diperintahkan untuk menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukanNya, kaum muslimin diperintahkan untuk melakukan silaturahmi kepada orangtua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya. 

Saking pentingnya silaturahmi, banyak keutamaan yang akan didapatkan bagi orang-orang yang dapat melakukan kegiatan silaturahmi meskipun secara virtual. Jika kondisi sudah memungkinkan silaturrahmi hendaknya dilakukan secara langsung. Pertama, merupakan konsekuensi iman. Silaturahmi merupakan tuntutan keimanan, orang yang beriman mesti melakukan silaturrahmi sebagai salah satu buktinya. Nabi SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi." (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, dipanjangkan umur dan dilapangkan rezeki. Dengan silaturahmi umur dan rezeki akan berkah. Meski tidak panjang umur, namun berkualitas dan berisi amal kebajikan. Pun dengan rezeki, meski tidak banyak namun bermanfaat dan bertambah ketaatan kepada-Nya. Nabi SAW bersabda, "Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi." (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, terhubung dengan Allah. Dengan silaturrahmi, seseorang akan merasakan kebersamaan dengan-Nya. Dari Aisyah RA berkata, Nabi SAW bersabda, "Silaturrahmi itu tergantung di arsy (singgasana Allah) seraya berkata; 'Barang siapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barang siapa yang memutuskanku, Allah akan memutuskan hubungan dengannya'." (HR Bukhari dan Muslim)

Keempat, sebab masuk surga. Dengan silaturahmi, seseorang akan semakin mudah mendapatkan surga-Nya. Dari Abu Ayyub al-Anshari RA, sesungguhnya seorang laki-laki berkata, "Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka. Maka, Nabi SAW bersabda; 'Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi'." (HR Bukhari dan Muslim)

Kelima, bukti ketaatan kepada Allah. Menyambung silaturahmi adalah salah satu yang diperintahkan oleh Allah, dengan menjalankan perintah-Nya seseorang taat kepada-Nya. (QS Ar-Ra'd [13]:21).

Keenam, pahalanya seperti memerdekakan budak. Dari ummul mukminin Maimunah binti Harits RA, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi SAW sebelumnya, tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata, "Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku?" Beliau bertanya, "Apakah sudah engkau lakukan?" Dia menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu." (HR Bukhari dan Muslim)

Sedangkan bagi orang yang memutus silaturahmi diancam tidak akan dapat masuk surga. Dari Jubair bin Muth’im RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surge orang yang memutus silaturrahmi." (HR Bukhari dan Muslim)

Selain itu, ancaman bagi pemutus silaturahmi adalah hukumannya akan disegerakan di dunia sebelum di akhirat. Rasul SAW bersabda, "Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allah siapkan baginya di akhirat daripada baghyu (kezaliman dan berbuat buruk kepada orang lain) dan memutuskan silaturahmi." (HR Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud, dan al-Hakim)

Semoga Allah membimbing kita kaum muslimin agar dapat melakukan silaturahmi dan meraih keutamaan yang telah dijanjikan. Amin.

Baca Juga

MI/SUMARYANTO BRONTO

Cinta Buya Syafii kepada Bangsa

👤Hajriyanto Y Thohari Ketua PP Muhammadiyah 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:10 WIB
BUYA Syafii, panggilan akrab Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif, adalah pengagum berat Mohammad Hatta, wakil presiden pertama kita. Keduanya...
MI/Duta

Thinking of no Box Mengenang Kesederhanaan Buya Syafii Maarif

👤Ahmad Baidhowi AR Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:05 WIB
JUMAT (27/5), di hari yang penuh berkah, Buya Syafii Maarif mengembuskan napas terakhir dan menghadap Allah dengan penuh...
MI/Duta

Diaspora Nahdiyin dan Penyebaran Islam Inklusif

👤Sukron Ma’mun Nahdiyin di Sydney, Australia, sedang menyelesaikan program doktor di Western Sydney University 🕔Sabtu 28 Mei 2022, 05:00 WIB
MENJELANG seabad usianya, Nahdlatul Ulama menggaungkan pesan damai untuk peradaban dunia dengan tema Merawat jagat, membangun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya