Minggu 15 November 2020, 16:08 WIB

Mendorong Jurnalisme Perdesaan

Marjono, Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng | Opini
Mendorong Jurnalisme Perdesaan

Dok pribadi
Marjono

BAGI sebagian kalangan mungkin masih punya mimpi, desa maju. Salah satu cara membawa desa maju adalah dengan memasok informasi, dan beragam informasi pun bisa didapatkan di mana-mana. Mulai media manual hingga media digital. Semua menyediakan gizi pengetahuan bagi warga desa.

Beberapa tahun silam, saya pernah mengenal majalah Desa Kita di Jateng, majalah Djaka Lodang di Jogja, majalah Tilik Desa di Jatim, dll. Semua itu punya kontribusi besar dalam membuka mata dan matra desa. Sekurangnya desa bisa belajar soal pertanian, teknologi tepat guna, UMKM, kebangsaan, juga lainnya. Sayangnya, majalah yang saya sebut pertama itu sudah tutup menjelang kelahiran otonomi daerah. Sedangkan nasib dua majalah lainnya di atas, semoga masih terbit.

Kebutuhan informasi menjadi stategis karena mampu mengubah segalanya, tapi bukan segala-galanya. Sebut saja, informasi pemberantasan hama dan penyakit yang menyerang tanaman hias, ataupun informasi antisipasi bencana berbasis kearifan lokal, dll. Ketiga majalah di atas telah menjadi bagian media cetak yang hingga kini masih diperlukan dan bertahan. Masih banyak koran yang beredar mengunjungi pembaca setianya setiap hari di berbagai daerah.
 
Seperti pernah ditekankan Ichwan Prasetyo, jurnalisme era kini harus tetap melirik desa, memberdayakan desa. Ini wujud tanggung jawab jurnalisme terhadap pemberdayaan dan pembangunan desa berdasarkan UU No. 6/2014 tentang Desa atau UU Desa. Media lokal seperti punya tanggung jawab lebih besar untuk berperan aktif dalam pemberdayaan desa seturut pemberlakuan UU Desa. Media nasional pun semestinya punya keterpanggilan serupa. Bagi media lokal dengan aspek kedekatan yang spesial dengan audiens lokal tempat media itu berada dan beraktivitas, tentulah punya kedekatan lebih baik dengan masyarakat.

Maka kemudian, jurnalisme perdesaan mesti naik kelas menjadi forum publik, yang cakap mengusung tema-tema berarus desa, pembangunan desa, dan masyarakat desa. Sejak tajuk rencana, berita, kolom atau rubrik, surat pembaca, laporan, investigasi mendalam tentang desa sekurangnya menjadi media arus utama di sini. Dalam relasi ini media atau jurnalisme perdesaan bisa memainkan multiperan, seperti kontrol pembangunan desa, pusat informasi perdesaan, marketing perdesaan, jaringan perdesaan, bahkan bisa pula berperan sebagai event organizer dalam menjawab kebutuhan masyarakat pedesaan. Media perdesaan begitu fleksibel dalam menghubungkan warga perdesaan ke semua lini, mulai dari pemasaran atau keuangan, teknologi tepat guna, pelatihan, dll.
 
Konten edukasi
Peran cukup penting lainnya media perdesaan menghadirkan konten-konten yang mengedukasi, meriangkan masyarakat desa bukan malah menakuti atau membuat pesimisme baru desa. Di sini awak media mesti membekali diri dengan pemahaman yang komprehensif soal regulasi terkait desa hingga turunannya. Terlebih lagi mengenal sosial budaya desa, kearifan lokal desa, potensi bahkan kekuatan unggulan desa yang layak dijual maupun perlu injeksi kencang dari aras media.

Itu semua menjadi kerinduan panjang bagi warga desa. Media berbasis internet, media sosial cukup penting tapi media cetak (perdesaan) tak kalah pentingnya. Ketika media masih punya perhatian pada wilayah desa, kita optimistis media seperti ini masih punya pelanggan, karena menimbang segi ekonomisnya. Jadi sekurangnya pangsa pasar media cetak perdesaan masih terbuka dan menjadi peluang besar bagi mereka yang mengepakkan dua kaki atau dua sayapnya, yakni bisnis dan sosial.
 
Media yang telah, sedang dan akan menoleh lajur pedesaan ini, tak bakalan mati, bangkrut atau jatuh miskin hanya gegara konsen dengan isi perdesaan. Walau tak secara khusus konsentrasi soal pemberitaan perdesaan, tentu bisa melakukan aktivitas lain yang berhulu perdesaan. Program CSR dengan beragam intervensi yang intinya membantu masyarakat perdesaan keluar dari jebakan ketergantungan dan atau kemiskinan, bisa menjadi solusi. Membagi gratis koran untuk pojok baca perdesaan, membantu pemugaran rumah tidak layak huni, memasok buku atau asupan bacaan lain bagi rumah pinta dan perpustaakaan desa pun, tak kalah eloknya. Hal itu jauh lebih menyentuh ketimbang korporasi besar dengan setumpuk dana yang diboyong ke desa.

Saya pernah menulis di majalah Berdaya yang saat itu milik Ditjen PMD Kemendagri. Sekarang barangkali masih ada daerah bahkan desa memiliki media perdesaan, entah itu yang sistem daring maupun luring. Keduanya berpeluang besar menjadi broker desa dalam menjalankan fungsi promosi desa. Bagi pemerintah daerah, memang pada saat yang sama tentu juga sedang dan terus melakukan terobosan-terobosan kreatif dan inovatif lain untuk mempromosikan desa, menyangkut pertanian, kuliner, wisata, seni budaya, dll agar makin moncer. 

Bukan desaholic
Saat ini desa masih membutuhkan promosi masif agar dunia tahu dan mengenal. Promosi menjadi ujung tombak keberhasilan penjualan produk desa. Sebagus apapun penataan atas berbagai potensi desa, maupun sekeren apapun event-event seni budaya yang diselenggarakan, bila tidak disertai dengan promosi secara masif dan atraktif, kita tidak bisa berharap banyak desa akan laku. 

Harapannya masyarakat akan gethok tular kepada yang lain dan selanjutnya berkunjung ke desa, menginap di desa dan membelanjakan uanganya di desa. Media perdesaan juga bisa menjadi sarana korektif atas kegiatan pembangunan di perdesaan. Maka kemudian, media satu ini mesti terbuka atas kritik dari masyarakat pun rekan-rekan media lainnya. Kritik harus dilakukan dan disertai solusi.
 
Mengkritisi dan memberi solusi akan sangat membantu bagi kemajuan ragam sektor andalan di desa. Saya masih bermimpi menunggu lebih banyak lagi lahirnya penerbitan media perdesaan maupun para jurnalis yang peduli terhadap desa. Mengangkat isu-isu perdesaaan yang mampu memengaruhi para pengambilan keputusan, tentu akan berdampak pada pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Termasuk kepada para diaspora, kita harapkan juga bisa ikut mempromosikan kemolekan desa dengan segala etika, eksotisme termasuk keramahan, kepolosan, gotong royong ala desa. Pada prinsipnya, kita butuh karya-karya kreatif yang mampu mengenalkan dan menjual desa. Kita ingin, media perdesaan hadir lewat produk-produk jurnalistik yang menarik, kritis tetapi konstruktif, lugas namun tetap solutif dan edukatif serta tidak bombastis atau provokatif. 

Baca Juga

Dok pribadi

Karya Sastra Jadi Bacaan Anak Kala Pandemi

👤Wildan Pradistya Putra, Pendidik di Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) Malang 🕔Senin 18 Januari 2021, 12:15 WIB
Melihat manfaatnya, membaca karya sastra seharusnya tidak hanya dilakukan oleh anak ketika ada tugas mata pelajaran bahasa Indonesia atau...
Dok pribadi

Meneguhkan Kinerja Birokrasi Di Masa Pandemi

👤Tedi Sudrajat, Direktur Indonesia for Bureaucratic Reform (INBRIEF), Akademisi FH Universitas Jenderal Soedirman 🕔Senin 18 Januari 2021, 10:45 WIB
Jika prasyarat ini terpenuhi, pola kerja akan semakin terukur dan menciptakan daya ikat aktivitas birokrat menurut sistem kerja baku. Tetap...
Dok.Pribadi

Sekolah Wirausaha

👤Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma 🕔Senin 18 Januari 2021, 05:00 WIB
PANDEMI memiliki dampak luar biasa. Tidak sebatas pada kesehatan fisik dan mental warga dunia, itu juga telah meluluhlantakkan ketahanan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya