Selasa 18 Agustus 2020, 08:05 WIB

Storage Baterai dalam Mendukung Tumbuhnya Kawasan Ramah Lingkungan

Dwi Suryo Abdullah Pemerhati Listrik | Opini
Storage Baterai dalam Mendukung Tumbuhnya Kawasan Ramah Lingkungan

Dok. Pribadi

 

SEIRING berjalannya waktu, inovasi dan riset terus berkembang terutama di industri penyimpanan energi (baterai). Perkembangan baterai tidak lepas dari material yang punya daya simpan lebih besar pada unit size dan berat yang sama. Sekitar dua dekade yang lalu saat telepon genggam baru mulai digunakan, pemakaian baterai untuk telepon genggam masih sering dilepas untuk dicaskan atau diganti dengan baterai yang sudah full kapasitasnya, bahkan power bank untuk 10 ribu mAh masih jarang ditemukan.

Namun, di saat sekarang telepon pintar tidak perlu melepas baterai dan cukup dicaskan langsung melalui power bank atau melalui kabel cas, baik yang normal maupun fast charger. Itu semua merupakan hasil riset dan kemajuan teknologi di bidang storage baterai.

Teknologi baterai inilah yang terus berinovasi supaya produk peralatan listrik portabel dapat memanfaatkan power bank sebagai sumber energinya. Tujuannya ketika peralatan listrik tersebut digunakan tidak akan memengaruhi kualitas udara dan suara di sekitar lokasi tersebut.

Dalam hukum kekekalan energi, energi itu bersifat kekal, artinya energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Energi hanya berubah bentuk dari bentuk energi yang satu menjadi bentuk energi yang lain.

Bila energi itu tidak bisa diciptakan, energi listrik yang merupakan hasil konversi energi maka energi listrik dapat disimpan ke dalam sebuah baterai (stasiun baterai), hal ini seiring dengan perkembangan teknologi.

Kekuatan ukuran baterai dihitung dengan menggunakan standar Ah (Ampere hour) atau mAh (mili Ampere hour). Berdasarkan jenis arusnya, baterai termasuk kategori arus searah (direct current) sehingga frekuensinya sama dengan nol.

Dengan demikian, energi yang tersimpan di dalam baterai dapat ditulis sebagai berikut: W = V x I x t (watt detik), Daya = tegangan x arus x waktu.

 

Membawa beban

Mengingat 1 kWh setara 3.600 kJoule, apabila ada sepeda listrik yang dilengkapi motor listrik arus searah pada normal tegangan 48 volt dc, energi baterai yang digunakan sepeda listrik kapasitas maksimal tersebut dapat menyimpan energi sebesar 10 Ah atau setara dengan daya 40 v x 10 Ah = 0,4 kilowatt atau energi yang tersimpan di dalam baterai setara dengan 0,4 x 3.600 kJoule = 1.440 kJoule setara dengan 120 mililiter solar, apabila digunakan untuk mengoperasikan mesin pembangkit listrik tenaga diesel atau setara dengan 380 gram batu bara yang nilai kalornya 4.300 kCal bila digunakan untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap.

Apabila arus listrik yang dialirkan baterai ke motor dc secara kontan sebesar 0,5 Ampere, energi listrik yang tersimpan di dalam baterai akan kosong pada 20 jam operasi motor dc setelah berputar pada normal speednya dan stabil selama 20 jam.

Namun, tentunya akan berbeda apabila motor listrik tersebut harus membawa beban berupa berat sepeda dan berat badan penggowes, andai ini diperhitungkan tentunya ini menjadi pengurang kecepatan yang otomatis akan berpengaruh pada jarak tempuh dan kecepatan.

Dari penjelasan tersebut, hampir produsen sepeda listrik melakukan uji coba melalui variasi beban dan variasi lintasan berupa jalan lurus dan menanjak sehingga dengan demikian sepeda listrik dapat dibanderol mampu melintas di jalan datar dengan membawa beban 80 kilogram (kg) sejauh 50 kilometer (km). Tidak kecuali sepeda motor listrik untuk menghabiskan energi yang ada di baterai setara dengan 0,40 kWh.

Sebagaimana banyak orang memahami kendaraan listrik merupakan sarana transportasi yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan kebisingan dan polusi udara di saat kendaraan listrik tersebut digunakan. Namun, alangkah menariknya apabila energi primer yang dikonversikan untuk mengisi baterai 100% berasal dari renewable energy (energi terbarukan).

Penggunaan renewable energy atau energi terbarukan ini menjadi tantangan bagi pemerintah atau pihak mana pun untuk mewujudkan suatu kawasan yang energinya 100% diperoleh dari energi yang berasal dari ‘proses alam yang berkelanjutan’, seperti tenaga surya, tenaga angin, air, minyak sawit (B30 atau B100), panas bumi, wood pelet, dan sampah organik.

Renewable energy sangat cocok dikembangkan dan diterapkan pada kawasan yang membutuhkan daya listrik dalam skala kecil di bawah 5 Mw. Apalagi diterapkan di kawasan wisata, energi listrik untuk pulau wisata tersebut tidak bisa ditarik menggunakan kabel laut karena alasan geografis (laut yang dalam dan jarak melebihi 10 km).

Gambaran ini menjelaskan energi hanya bisa berubah bentuk, tidak bisa diciptakan, tetapi bisa dimanfaatkan secara optimal oleh pemilik energi. Ketika pemilik energi primer memanfaatkannya untuk kepentingan industri pariwisata yang bebas polusi, tidak menutup peluang energi bersih yang bersumber dari renewable energy dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga kawasan tersebut mempunyai kualitas oksigen yang bagus dan menjadi unggulan wisata nasional.

Namun, ketika pemilik energi memanfaatkannya untuk mendongkrak devisa negara, tentunya energi primer tersebut akan diekspor. Begitu juga ketika negara membutuhkan energi untuk mendorong tumbuhnya industri nasional, tentunya energi tersebut dapat dikonversikan menjadi energi listrik, hal ini bertujuan agar produk industri nasional mampu bersaing di pasar global.

 

Produksi

Produksi baterai nasional akan mendorong tumbuhnya ekonomi di pinggiran seperti warga nelayan di kepulauan, apabila dibekali power bank dengan daya yang cukup dengan 100 Ah akan mampu mempertahankan segarnya ikan hasil tangkapan. Itu karena dengan kapasitas 100 Ah mampu mengoperasikan mesin pendingan (mini cool storage daya 200 watt selama sekitar 20 jam).

Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang berlimpah untuk membangun industri baterai, akan menjadi tonggak sejarah baru dalam pemanfaatan energi listrik portabel dan fleksibel untuk berbagai kepentingan utamanya untuk tumbuhnya ekonomi di daerah 3T (terdepan, tertinggal, dan terpencil).

Baca Juga

MI/Ebet

Belajar dari Sejarah

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 25 September 2022, 05:00 WIB
Ketika itu, Batavia dilanda berbagai wabah, seperti penyakit pes, kusta, dan...
MI/Vicky G

SBY dan Pemilu Curang

👤Eko Suprihatno, Editor Media Indonesia 🕔Sabtu 24 September 2022, 10:05 WIB
Kita percaya SBY tidak hendak mengganggu kredibilitas pemilu demi langgam politik sang putra Agus Harimurti Yudhoyono. Karena, kalau sudah...
Dok. Pribadi

Religion Forum (R-20): Mempromosikan Moderatisme Global

👤Ridwan Dosen Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Koordinator Program KAICIID Fellows Network Indonesia. 🕔Sabtu 24 September 2022, 05:00 WIB
INDONESIA sebagai Presidensi G-20 telah menetapkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Bali pada 15-16 November...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya