Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DI Indonesia, sepak bola dan prestasi seakan tak berjodoh. Terlebih dalam usaha mengejar mimpi tampil ke pentas dunia. Tahun ini, Indonesia memiliki dua kesempatan untuk tampil di ajang Piala Dunia, meski hanya di level kelompok umur.
Timnas Indonesia U-19 dan U-16 menjadi patriot-patriot bangsa untuk mewujudkan mimpi besar tersebut. Keduanya lolos ke Piala Asia dan hanya perlu finis di posisi empat besar untuk melenggang ke Piala Dunia. Namun, sayangnya, keduanya gagal.
Timnas U-16 yang paling diharapkan mewujudkan harapan tersebut. Tim asuhan Fakhri Husaini tampil ciamik di Piala AFF U-16 dan menjadi juara. Mereka sukses mengalahkan lawan terkuat Thailand di final melalui adu penalti.
Fakhri memang memiliki waktu ideal untuk menyiapkan timnas U-16. Untuk mempersiapkan diri di berbagai turnamen di tahun ini, David Maulana dan kawan-kawan telah melalui pemusatan latihan berkala sejak Januari lalu.
Prospek ‘Garuda Asia’, julukan Indonesia U-16, untuk mendunia semakin kentara pada Maret saat menjuarai turnamen Jenesys di Jepang. Di turnamen yang sama pula, Indonesia U-16 berhasil mengalahkan tim tuan rumah Jepang.
Timnas Indonesia U-16 pun juga tampil sempurna di babak kualifikasi Piala AFC U-16 Thailand. Akan tetapi, sederet penampilan mengagumkan timnas Indonesia U-16 harus terhenti di titik krusial. Mimpi menuju Piala Dunia U-17 pupus setelah timnas Indonesia U-16 takluk 2-3 dari Australia di perempat final.
"Saya bangga dengan pemain karena telah memberikan segalanya. Kesedihan hanya cukup malam ini. Pemain harus bangkit dan menikmati kembali kehidupannya. Masa depan mereka masih sangat luas," kata Fakhri seusai kekalahan dari Australia di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, awal Oktober lalu.
Nasib serupa juga dialami timnas Indonesia U-19. Meski tak memiliki catatan yang sementereng saudara mudanya, ‘Garuda Nusantara’, julukan Indonesia U-19, nyaris mengamankan satu tiket ke Piala Dunia U-20 Polandia tahun depan. Tim asuhan Indra Sjafri gagal menjadi salah satu wakil Asia setelah kalah 0-2 dari Jepang di perempat final Piala AFC U-19, 28 Oktober lalu.
Dua kegagalan itu tidak membuat Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) kehilangan keyakinan. Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria menyebut timnas kelompok umur saat ini diproyeksikan untuk bersaing di level tertinggi satu dekade ke depan.
Target awal PSSI ialah lolos Olimpiade 2024, sedangkan impian tampil di Piala Dunia diharapkan terealisasi pada 2034.
"Target pertama kita Olimpiade 2024. Kalau ditarik mundur ke 2018, kita bicarakan usia U-16 tahun. Itulah mengapa PSSI mengalokasikan 1,5 juta dolar untuk membenahi sistem kepelatihan, suntikan ke U-15 dan U-16. Seluruh kebijakan PSSI fokus di situ," kata Ratu.
Niatan PSSI tentu patut didukung. Namun, konsistensi kebijakan perlu terus dikawal agar target tersebut tak melenceng.
Sejauh ini langkah PSSI yang patut diapresiasi ialah mulai menjamurnya program percepatan peningkatan lisensi kepelatihan. PSSI menggelar kursus pelatih, mulai lisensi D hingga Pro AFC. Selain itu, PSSI juga menggandeng Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) sebagai partner.
PSSI juga memperbanyak kompetisi di tingkat usia dini. Piala Soeratin digeber di tiga kelompok usia, yakni U-13, U-15, dan U-17. Tahun ini, kompetisi Liga 1 juga menggelar kelompok U-16 dan U-19. Semua itu dilakukan agar pada satu dekade mendatang, Indonesia telah memiliki pemain-pemain dengan kualitas mumpuni untuk mewujudkan impian tampil di pentas dunia. (Sat/R-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved