Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

PGAWC 2018 Jadi Uji Coba Terakhir

Nurul Fadillah
09/6/2018 13:08
PGAWC 2018 Jadi Uji Coba Terakhir
(ANTARA/Zabur Karuru)

TIM nasional paralayang akan menentukan tim inti yang berlaga di Asian Games 2018 pada akhir bulan ini. Dari total 18 atlet pelatnas (10 putra, 8 putri) yang dimiliki akan dikerucutkan menjadi 12 atlet (7 putra dan 5 putri).

Setelah terpilihnya para pilot utama, mereka akan menghadapi uji coba terakhir menjelang berlangsungnya Asian Games 2018 pada 18 Agustus- 2 September mendatang. Ujian terakhir para pilot adalah di ajang Seri III Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (PGAWC) 2018 yang bergulir di Gunung Banyak, Batu, Malang, Jawa Timur pada 13-15 Juli mendatang.

Sebelumnya, demi mencapai target satu emas di Asian Games, timnas Paralayang mendatangkan mantan Juara Dunia Lintas Alam Paralayang 2007, Bruce Goldsmith. Pelatih asing asal Inggris tersebut melatih timnas Paralayang sejak 1 hingga 7 Juni lalu.

Menurut Goldsmith, teknik para pilot Indonesia kali ini terbilang sudah bagus. Meski demikian, masih banyak yang harus dibenahi jika ingin meraih hasil maksimal di Asian Games nanti.

“Cuaca memang mudah berubah di Puncak. Tapi lumayan, kita pernah terbang sejauh 25 kilometer. Mereka sudah bagus tekniknya, hanya kurang efisien terbangnya,” ujar Goldsmith.

"Pilot seharusnya tak membuat banyak gerakan yang tak perlu saat terbang karena dapat berakibat parasut hilang ketinggian dan terpaksa mendarat, padahal seluruh soal belum dikerjakan dan akhirnya gagal capai garis finis. Dalam lomba lintas alam, itu jelas akan merugikan pilot.

Goldsmith menambahkan, sebagai tuan rumah, timnas Indonesia memang wajib memaksimalkan penguasaan medan. Mereka juga harus lebih cerdik dalam membaca tanda-tanda alam.

"Atlet jangan dibebani sasaran pencapaian emas, biarkan mereka menikmati terbang. Pilot yang baik itu harus bisa antisipasi perubahan arah angin secepat mungkin karena dalam race to goal

, sepersekian detik akan sangat menentukan," tandasnya.

Tertinggal Peralatan

Di Asian Games nanti, Indonesia sudah ditunggu tiga lawan berat dari Asia. Mereka adalah Jepang, Korea Selatan dan juga Thailand.

Pesaing tuan rumah Indonesia dalam nomor lintas alam adalah Jepang dan Korea Selatan, sementara di nomor ketepatan mendarat adalah Korea Selatan dan Thailand. Meskipun timnas Indonesia sudah terbiasa menguasai medan, namun mereka memiliki keunggulan lebih dalam hal peralatan.

Saat Piala Asia Lintas Alam II tahun lalu di Puncak, Indonesia gagal merebut emas usai dikalahkan Korea Selatan yang menyapu bersih seluruh emas di kelas putra, putri dan beregu. Kegagalan pilot Indonesia meraih emas di Piala Asia II disebabkan jenis parasut yang tertinggal jauh dengan pilot Korea Selatan, Jepang dan Cina. Bila tiga pesaing kuat Indonesia di nomor lintas alam itu memakai parasut produksi terbaru tahun lalu, para pilot Pelatnas masih memakai produksi 2014.

Meski demikian, Wakil Sekjen II PB FASI, Kol. Pnb. Agung Sasongkojati, mengatakan, pihaknya sudah menerima dan menyerahkan pada Pelatnas, 18 buah parasut yang dibeli dari luar negeri Rabu lalu (6/6). "Mereknya berbeda, sesuai dengan permintaan tiap pilot," imbuh Agung. (A-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya