Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Atletico Haus Penghargaan Eropa

Satria Sakti Utama
15/5/2018 21:05
Atletico Haus Penghargaan Eropa
(AFP)

ATLETICO Madrid mencari penawar dahaga setelah enam tahun tanpa gelar di pentas Eropa. Los Rijiblancos--julukan Atletico-- terakhir kali menganggkat trofi kontinental saat menjuarai Liga Europa pada 2012 silam. Tapi setelahnya, Atletico menjadi pecundang dalam dua partai final Liga Champions Eropa.

Klub yang bermarkas di Wanda Metropolitano Madrid ini menyerah dari rival sekota Real Madrid di babak tambahan pada musim 2014 lalu. Dua tahun berselang, dengan lawan yang sama, Atletico kembali menyerah. Atletico kalah melalui tendang adu penalti setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal.

Oleh karenanya, final Liga Europa musim ini menjadi momentum Atletico Madrid membidik gelar juara kembali. Klub yang dipimpin Antoine Griezmann akan menghadapi wakil Prancis Marseille di Stadion Groupama, Lyon, Prancis, Kamis (17/5) dini hari.

"Kami tidak dapat menanti final berkeliaran. Banyak hal berubah di Atletico. Semua yang telah kami alami dalam beberapa tahun terakhir ini akan diingat. Saya harap kami mendapatkan medali lainnya," kata bek sayap Atletico Juanfran.

Gelar juara ini mungkin akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk Griezmann. Pesepak bola asal Prancis ini diisukan meninggalkan Madrid akhir musim ini. Namun, belum ada kejelasan klub mana yang akan ditujunya meski santer akan bergabung ke Barcelona.

Griezmann akan mengawal lini depan timnya bersama eks bomber Chelsea Diego Costa. Kombinasi mereka berdua diharapkan berbuah hasil manis sekaligus merengkuh gelar juara bagi Atletico Madrid.

 

Layaknya Bermain Kandang

Marseille seperti bermain di kandang saat menghadapi Atletico Madrid pada partai puncak Liga Europa di Lyon. Jarak Marseille ke Lyon hanya ditempuh dengan berkendara selama tiga jam. Artinya pendukung Marseille akan mendominasi kursi-kursi penonton di Groupama.

Kendati demikian, Les Phocéens--julukan Marseille-- bernasib sama dengan Atletico. Marseille jarang berjodoh dengan status juara ketika sukses mencapai partai final. Wakil Prancis ini menelan tiga kekalahan dari empat pertandingan pamungkas, terkecuali final Liga Champions tahun 1993.

Tidak ada yang menyangka skuat asuhan Rudi Garcia mampu mencapai babak akhir kompetisi ini. Namun, kesuksesan melewati hadangan Leipzig dan Salzburg di dua babak sebelumnya membuat optimisme publik Marseille memuncak.

"Kami memenangkan Liga Champions pada 1993 dan tidak ada orang lain yang melakukannya sejak saat itu. Kami tahu betapa sulitnya untuk mengulang itu. Tapi hal itu pula motivasi kami. Dan jika juara juara, kami akan ditulis di buku sejarah," ungkap gelandang Marseille, Dimitri Payet.

Pekerjaan besar Marseille ialah membongkar pertahanan Atletico Madrid. Sejak ditangani oleh Diego Simeone, Los Rojiblancos--julukan Atletico-- dikenal dengan seni bertahan yang jempolan. Musim ini saja Atletico Madrid menjadi tim yang paling minim kebobolan di La Liga Spanyol.

"Mereka merupakan klub besar, tim super dengan pemain hebat dan pelatih hebat pula. Mereka terbiasa bermain di level tertinggi. Mereka jelas favorit, tapi kami akan melakukan apapun untuk menciptakan kejutan," tutur pemain sayap Florian Thauvin. (AFP/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya