Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MO Farah telah mencatatkan namanya di dalam sejarah atletik dunia sebagai pelari jarak jauh pertama yang memenangi gelar juara pada 10 laga final secara beruntun. Farah menggapainya dengan finis tercepat di nomor lari 10.000 meter putra pada ajang Kejuaraan Atletik Dunia 2017 di London Stadium, Inggris, kemarin.
Atlet Inggris itu membukukan waktu 26 menit, 46 detik. Pelari bernama asli Mohamed Muktar Jama Farah itu sukses mempertahankan medali emasnya di nomor 10.000 meter selama tiga kejuaraan dunia berturut-turut. Farah berhasil mengalahkan pesaingnya dari Uganda, Joshua Chaptegei, dengan selisih 0,94 detik dan pelari Kenya, Paul Tanui, di posisi ketiga dengan catatan waktu 26 menit, 50,60 detik.
Namun, ambisi Mo Farah tidak berhenti sampai di situ. Mo Farah memburu gelar ganda. Ia selanjutnya akan menatap gelar keempatnya di nomor 5.000 meter. Sejak meraih gelar itu pada 2011, pelari kelahiran Somalia itu memang tak pernah sekali pun tergeser posisinya sebagai raja 5.000 meter.
Farah pun memiliki kesempatan untuk mempertahankannya kembali pada pertandingan 5.000 meter yang di mulai Rabu (9/8) mendatang dan final pada Sabtu (12/8). Pun kalau kondisinya telah benar-benar pulih setelah saat lomba nomor 10.000 meter, kemarin, Mo Farah didera cedera betis kiri akibat terjatuh.
“Saya terluka dan saya harus kuat untuk bertemu dokter dan menjalani penyembuhan. Saya mengalami beberapa luka dan memar. Mungkin butuh bebe-rapa jahitan. Saya rasa waktunya cukup banyak untuk pemulihan,” ujar peraih empat emas Olimpiade itu, termasuk pada 2012 di tempat yang sama.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perjuangan Mo Farah menjuarai nomor 10.000 meter putra terbilang sangat sulit. Dia harus bisa mengantisipasi berbagai strategi dari para rival di lintasan.
Saat pertandingan berlangsung, pelari dari Kenya dan Uganda terlihat meningkatkan kecepatan mereka kemudian menguranginya sehingga mengacaukan ritme lari Farah. Peristiwa serupa bisa saja berulang saat Mo Farah berlomba di jarak 5.000 meter.
Kendati demikian, Mo Farah yang belum pernah terkalahkan di London Stadium justru mengaku semakin percaya diri setelah melewati berbagai rintangan di perlombaan.
“Ini adalah salah satu balapan terberat dalam hidup saya. Orang-orang seperti bersatu ingin mengalahkan saya. Ada atlet dari Ethiopia, Kenya, dan Uganda. Mereka bekerja sama melawan saya,” ujar legenda berusia 34 tahun tersebut. “Tapi saat berada di tengah lintasan, saya tidak berpikir saya akan kalah meskipun saya berpikir itu sangat sulit,” pungkasnya.
Tersisih
Tim atletik Amerika Serikat sudah terpukul di hari pertama setelah dua andalan mereka tersisih di penyisihan. Jennifer Suhr di nomor loncat galah putri dan Jeff Henderson di lompat jauh putra gagal lolos ke putaran final. Padahal keduanya menyandang sebagai juara Olimpiade.
Suhr, peraih emas Olimpiade London 2012 dan kejuaraan dunia setahun kemudian, gagal mencatat loncatan di tiga kesempatan. Padahal atlet berusia 35 tahun itu memiliki rekor terbaik setinggi 4,91 meter.
Henderson juga hanya mampu menorehkan lompatan sejauh 7,84 meter. Padahal dia memiliki rekor terbaik 8,58 meter pada 2015, serta 8,28 meter sepanjang tahun ini. (AFP/R-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved