Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Barujari Meletus Lagi

Yusuf Riaman
28/11/2015 00:00
Barujari Meletus Lagi
(ANTARA FOTO/HO)
GUNUNG Barujari, anak Gunung Rinjani, yang terletak di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), meletus kembali sejak Kamis (26/11) lalu setelah sempat mereda selama lebih dari dua minggu. Debu vulkanis menerpa wilayah Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, dan sekitarnya. "Pagi tadi setidaknya terjadi dua kali letusan, tetapi tidak ada gempa tremor," kata Zulkarnain, petugas Pos Pengamatan Gunung Rinjani, kemarin. Dia menyebutkan semburan asap mencapai ketinggian 1.500 meter dari atas mulut kawah atau sekitar 4.000 meter dari atas permukaan laut (mdpl), sedikit menurun jika dibandingkan dengan Kamis lalu yang mencapai 2.000 meter.

Pergerakan asap mengarah ke barat dan barat daya dari Pulau Lombok. Erupsi tidak sampai menimbulkan aliran lava seperti yang terjadi sebelumnya, tapi material letusan tersebut masuk ke Danau Segara Anak. Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Stasiun Meteorologi, Selaparang, Bandara Internasional Lombok NTB, Jumat siang, pergerakan debu vulkanis Gunung Barujari mengarah ke Barat-Barat Daya dan tampaknya sudah melewati Pulau Lombok. General Manager PT Angasa Pura I, Pudjiono, mengatakan erupsi kali ini tidak sampai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Lombok. "Masih tetap operasional secara normal," ujar Pudjiono, kemarin.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Agus Budiono mengatakan larangan pendakian ke Gunung Rinjani masih tetap diberlakukan dan baru akan dibuka setelah benar-benar dinyatakan aman tidak ada lagi letusan. "Untuk itu, kita harus minta rekomendasi dari Vulkanolog," ujar Agus. Di Jawa Timur, setelah mengalami peningkatan selama seminggu terakhir, aktivitas vulkanik Gunung Bromo kembali normal. Bahkan, sejak Jumat (27/11) pagi, wisatawan diperbolehkan naik ke puncak untuk melihat kawah gunung yang dikenal dengan keindahan panoramanya tersebut. "Hari ini kondisinya jauh berbeda dengan kemarin dan beberapa hari lalu. Sekarang kondisinya jauh lebih bagus. Karena itu, wisatawan dipersilakan naik ke puncak untuk bisa menyaksikan kawah. Namun, tetap dalam pantauan dan pengawasan petugas," kata Ayu dewi Utari, Kepala Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS).

Tanah longsor
Di bagian lain, tanah longsor yang melanda Dusun Gunung Anyar, Desa Krajan, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), berlanjut. Pekan lalu, tanah longsor nyaris memutus jalan desa. Kini longsoran bertambah dan mengancam setidaknya 20 rumah yang ada di atasnya. Kepala Dusun Gunung Anyar Agus Giniarso menyatakan bahwa pada awalnya tanah longsor melanda jalan desa sepekan lalu. "Tetapi karena hujan deras terus mengguyur, longsor semakin meluas. Kini longsor mendekati permukiman warga. Bahkan, talut rumah warga telah longsor. Padahal, di atasnya ada setidaknya 20 rumah warga," ujar Agus, kemarin.

Masih di Jateng, early warning system (EWS) atau semacam sistem peringatan dini bencana akan dipasang di enam titik wilayah Kabupaten Temanggung yang berpotensi mengakibatkan longsor paling besar. Di Jawa Barat, memasuki hari ketiga, proses pencarian satu korban tanah longsor di Desa Karangmukti, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, belum membuahkan hasil.

Kini petugas telah berupaya mencari korban dengan cara menggali, mengangkat lumpur, dan menyedot air kolam hingga membuat saluran air di lokasi tersebut. Di sisi lain, Balai Pengelolaan Jalan Wilayah II Sukabumi terus memperbaiki kondisi ruas jalan yang rusak. Di antaranya kerusakan jalan yang ambles dan retak-retak akibat mulai tingginya intensitas curah hujan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya