Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Pewaris Suarakan Keprihatinan atas Kematian Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo

Naviandri
01/4/2026 21:51
Pewaris Suarakan Keprihatinan atas Kematian Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo
Bandung Zoo(Dok.Istimewa)

Kematian dua anak harimau benggala di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) pada Maret 2026 memicu keprihatinan berbagai pihak, termasuk Penjaga Warisan Sunda (Pewaris). Dua anak harimau kembar bernama Hara dan Huru dilaporkan mati akibat virus.

Koordinator Pewaris, Rully Alfiady, menyatakan pihaknya menyesalkan peristiwa tersebut, terutama karena kedua satwa merupakan bagian dari kelahiran langka di tengah konflik pengelolaan Bandung Zoo.

“Kami merasa prihatin dan menyesalkan atas matinya dua anak harimau Benggala karena virus. Ini menjadi pembelajaran bahwa menjaga aset konservasi membutuhkan keahlian dan perhatian yang sungguh-sungguh,” ujar Rully dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, selama 11 bulan terakhir Pewaris terus mengikuti perkembangan pengelolaan Bandung Zoo, termasuk dinamika konflik yang belum sepenuhnya selesai. Ia menilai kematian satwa tersebut menjadi pengingat pentingnya pengelolaan profesional dalam konservasi.

Meski demikian, Rully meminta agar perhatian terhadap kematian satwa tidak mengalihkan fokus dari agenda besar penyelamatan Bandung Zoo. Ia mendorong Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat untuk tetap melanjutkan upaya perbaikan pengelolaan.

“Kami berharap Pemkot Bandung dan BKSDA Jawa Barat tetap fokus melanjutkan agenda penyelamatan Bandung Zoo sesuai kesepakatan bersama,” katanya.

Pewaris juga mengapresiasi sejumlah tokoh dan pejabat yang dinilai telah memberikan perhatian terhadap kondisi kebun binatang tersebut. Di antaranya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Ketua DPRD Jawa Barat, serta sejumlah tokoh masyarakat.

“Terima kasih kepada para tokoh yang telah turun tangan langsung. Semoga ini menjadi energi baru bagi masyarakat untuk menyelamatkan kebun binatang sebagai warisan sejarah dan budaya,” ujar Rully.

Ia juga mengajak masyarakat luas untuk ikut mengawasi dan menjaga proses penyelamatan Bandung Zoo agar ke depan dapat dikelola secara profesional.

“Kami mengajak masyarakat Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia untuk bersama-sama mengawasi dan menjaga proses penyelamatan kebun binatang ini,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan tokoh Sunda Andri P. Kantaprawira. Ia menegaskan bahwa kematian dua anak harimau tidak boleh menghambat agenda besar penyelamatan Bandung Zoo.

“Kematian ini tidak boleh mengganggu agenda besar penyelamatan Bandung Zoo. Solusi harus segera dijalankan sesuai peraturan dan prinsip tata kelola yang baik,” ujar Andri.

Sementara itu, tokoh Walhi kultural, Apipudin, menilai peristiwa tersebut harus menjadi evaluasi bagi pengelola dan pegiat lingkungan dalam menjaga satwa konservasi.

“Kematian dua anak harimau Benggala harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama dalam pengelolaan satwa dan lingkungan,” kata Apipudin.

Ia juga mendesak Pemerintah Kota Bandung untuk segera merealisasikan kesepakatan terkait pengelolaan Bandung Zoo ke depan.

“Kami mendesak Pemkot Bandung untuk mempercepat realisasi kesepakatan bersama terkait pengelolaan Bandung Zoo,” ujarnya.

Sejumlah pihak berharap peristiwa ini menjadi momentum perbaikan tata kelola kebun binatang, mengingat Bandung Zoo merupakan salah satu aset sejarah dan budaya yang telah berdiri selama puluhan tahun. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya