Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Paradoks Labuan Bajo: Wisata Laut Dominan, Sektor Kreatif Darat Terabaikan

Marianus Marselus
31/3/2026 14:48
Paradoks Labuan Bajo: Wisata Laut Dominan, Sektor Kreatif Darat Terabaikan
Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia yang digelar , beberapa waktu lalu. Diskusi ini membuka kontras antara dominasi wisata bahari dan lemahnya penguatan sektor darat, termasuk ekonomi kreatif.(Dok. Istimewa)

DI balik popularitas kawasan Taman Nasional Komodo, sekitar 95% kunjungan wisatawan masih terpusat di laut. Dominasi tersebut tidak hanya menimbulkan tekanan terhadap lingkungan, tetapi juga menciptakan ketimpangan ekonomi. 

Sektor kreatif berbasis darat yang diharapkan menjadi penopang justru belum berkembang optimal karena keterbatasan akses dan fasilitas.  Pesona bahari memang mendunia, tetapi tanpa ruang yang adil bagi industri kreatif lokal, fondasi ekonomi daerah berisiko tetap timpang.

Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, menyebut kondisi ini mencerminkan kompleksitas tata kelola pariwisata yang belum sepenuhnya terintegrasi.

Pariwisata Labuan Bajo adalah ekosistem yang sangat kompleks. Namun memang saat ini aktivitas wisata masih sangat dominan di laut,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Selasa (31/3/2026).

Pelaku UMKM kreatif, Rino, menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya pemasaran, tetapi ketiadaan ruang fisik. “Kami bahkan belum punya lapak yang jelas. Sementara pembangunan berjalan besar-besaran, ruang untuk produk lokal justru sangat terbatas,” katanya.

Pernyataan tersebut menegaskan paradoks pembangunan Labuan Bajo: infrastruktur premium tumbuh pesat, namun pelaku lokal masih kesulitan mendapatkan tempat dalam ekosistem tersebut.

Hal senada disampaikan pekerja kreatif, Suci Maria. Ia menilai minimnya ruang kreatif berdampak pada lemahnya narasi lokal dalam promosi pariwisata.

“Kalau tidak ada ruang untuk berkarya dan tampil, bagaimana kita bisa membangun cerita dari sudut pandang lokal?” ujarnya.

Sementara itu, Koko Ama menyoroti keterbatasan fasilitas bagi komunitas kreatif yang masih bergerak secara mandiri. “Kami tidak punya ruang tetap. Bahkan apresiasi justru lebih datang dari pihak luar,” katanya. (MM/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya