Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
REKTOR Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Sudirman Said, menyebut kegiatan halal bihalal sebagai momentum penting untuk memperkuat kebersamaan sekaligus mendorong transformasi kampus menuju institusi yang unggul dan berdaya saing.
Hal tersebut disampaikan Sudirman saat menghadiri acara halal bihalal bertema “Idul Fitri sebagai titik awal memperkuat sinergi untuk transformasi kampus yang berkemajuan dan penuh keberkahan” di Aula Kampus Mataram UHN Tegal, Senin (30/3).
“Halal bihalal bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga momentum untuk memperkuat fondasi kebersamaan dalam membangun kampus yang lebih maju,” ujar Sudirman.
Ia menuturkan, UHN Tegal saat ini telah mencapai akreditasi baik di tingkat perguruan tinggi maupun program studi. Ke depan, pihaknya menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mendorong peningkatan kualitas kampus.
Langkah tersebut meliputi pembangunan fasilitas pendidikan, penguatan sumber daya manusia dosen, serta perluasan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Universitas juga menargetkan keterlibatan dalam forum internasional dengan menghadirkan advisory board dari berbagai negara. Kami juga akan mengundang tokoh nasional dan internasional untuk berkontribusi dalam pengembangan kampus,” katanya.
Menurut dia, pengembangan kampus tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas internal, tetapi juga harus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.
“Paralel dengan langkah besar tersebut, kita akan bersama-sama merealisasikan pembangunan kampus yang memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik, hadir sebagai penceramah. Ia membuka ceramah dengan membacakan puisi berjudul “Puisi di Lembar Kosong Universitas Harkat Negeri” yang disampaikan secara ekspresif.
Dalam ceramah bertajuk “Sagon, Kupat, Lepet dan Intip Sorga”, Atmo mengangkat kearifan lokal wilayah Bregaslang (Brebes, Tegal, Slawi, Pemalang) sebagai refleksi nilai kebersamaan dan kerukunan.
Ia menjelaskan filosofi berbagai kuliner khas daerah sebagai simbol kehidupan sosial masyarakat. Sagon, misalnya, disebut sebagai makanan pengantar sebelum seseorang menyampaikan permohonan maaf.
“Kupat dimaknai sebagai ‘ngaku lepat’, sementara lepet diartikan sebagai simbol kemampuan menahan amarah. Intip sorga menggambarkan kerendahan hati dan keberkahan yang tersembunyi,” ujarnya.
Atmo juga menyinggung berbagai makanan tradisional seperti opak, kripik gadung, hingga urab semanggen yang dinilai mampu menghadirkan suasana kebersamaan dan menguatkan ikatan sosial masyarakat.
Menurut dia, nilai-nilai budaya tersebut relevan untuk mendukung transformasi kampus, terutama dalam membangun sistem yang adil dan terbuka.
“Kampus harus memberi ruang setara bagi setiap insan untuk berkembang. Sistem meritokrasi berbasis rasionalitas dan manajemen profesional perlu diperkuat,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar perguruan tinggi tidak terjebak dalam sikap eksklusif terhadap masyarakat. Sebaliknya, kampus harus menjalin hubungan erat dengan lingkungan sekitar.
“Kampus tidak boleh arogan terhadap kampung. Harus ada ‘bésanan’ antara ilmuwan dan masyarakat. Universitas harus menjadi obor kebudayaan,” ujar Atmo.
Sementara itu, Bendahara Yayasan Pendidikan Harapan Bersama, Mohammad Hanief Arie Setianto, menekankan pentingnya kesiapan menghadapi tantangan dan krisis dalam pengembangan institusi pendidikan.
Ia mengibaratkan proses pembangunan kampus seperti pertumbuhan bambu yang membutuhkan fondasi kuat sebelum berkembang besar.
“Kita saat ini berada dalam situasi penuh tantangan. Dalam kondisi seperti ini, karakter akan terlihat. Ramadan telah melatih kita, dan ke depan kita perlu memperkuat fondasi,” ujarnya.
Hanief mengajak seluruh civitas akademika untuk menjaga semangat kebersamaan dan memperkuat dasar organisasi agar mampu menghadapi dinamika yang ada.
Melalui kegiatan halal bihalal ini, UHN Tegal menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi menjadi kampus unggul yang tidak hanya berdaya saing global, tetapi juga berakar pada nilai budaya lokal dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved