Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Tidak Dapat Kompensasi, Tukang Becak Masih Beroperasi di Pantura

Nurul Hidayah    
16/3/2026 17:25
Tidak Dapat Kompensasi, Tukang Becak Masih Beroperasi di Pantura
Mukidi, tukang becak di depan Pasar Plered, Kabupaten Cirebon.(MI/Nurul Hidayah)

SEJUMLAH tukang becak di pantura Cirebon hingga kini masih beroperasi di jalur pantura. Mereka mengaku tetap beroperasi lantaran tidak mendapatkan kompensasi.

Mukidi, 52, seorang tukang becak terlihat ngetem, di depan Pasar Plered, Kabupaten Cirebon, Senin (16/3). Mukidi, yang merupakan warga Watubelah, Kabupaten Cirebon terlihat menunggu penumpang di dalam becak miliknya. Becak milik Mukidi diparkir di bahu jalan namun tidak sampai memakan jalan yang beraspal. "Saya gak dapat uang kompensasi. Jadi saya ya masih narik becak. Kalau memang dapat, saya gak narik lagi," tutur Mukidi. 

Seperti diketahui, pada Sabtu (14/3), Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Mapolsek Gempol, Kabupaten Cirebon memberikan kompensasi kepada penarik becak sebesar Rp 1,4 juta per orang. Sebagai penerima kompensasi mereka pun  diminta untuk beristirahat sementara selama periode mudik dan arus balik tepatnya mulai H-7 hingga H+7. Kompensasi diberikan karena keberadaan becak di jalur pantura seringkali menjadi salah satu penyebab kepadatan dan kemacetan lalu lintas di jalur mudik. 

Di Kabupaten Cirebon, berdasarkan data dari Dinas Perhubungan setempat, tercatat sebanyak 557 tukang becak yang menerima bantuan tersebut. Mereka ini yang dinyatakan beroperasi di jalur pantura. 

Namun Mukidi, yang telah menarik becak sejak 25 tahun yang lalu di pasar yang sama mengaku belum pernah sekali pun mendapatkan uang kompensasi yang diberikan pemerintah untuk tidak beroperasi selama pelaksanaan arus mudik. "Tapi saya ga berani bawa penumpang ke sana," tutur Mukidi sambil menunjuk seberang jalan atau di ruas arus balik. Ia hanya membawa penumpang yang meminta di antar ke perumahan di belakang pasar tanpa harus menyeberang. 

Bahkan saat puncak arus mudik, saat sejumlah u-turn ditutup, Mukidi mengaku akan beroperasi di jalur sebaliknya atau di jalur balik. "Nanti putaran ditutup, jadi saya pindah ke depan sana," tutur Mukidi, ayah dari lima anak yang salah satunya masih ada yang sekolah.  

Hal senada diungkapkan Miskad, 46, seorang penarik becak lainnya. "Dari dulu, gak pernah sekali pun saya dapat uang kompensasi itu," tutur Miskad. Padahal ia pun beroperasi di jalur pantura dan selalu berharap mendapatkan kompensasi. "Saya juga sekali-kali pengen libur. kalau sekarang gak narik, uang dari mana untuk makan," tutur Miskad. 

Baik Mukidi maupun Miskad mengaku penghasilan sehari-hari mereka berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu. "Sekarang susah, orang banyak yang bawa motor ke pasar," tutur keduanya. Beruntungnya, becak yang mereka gunakan untuk mencari rezeki merupakan becak sendiri. 

Tidak hanya ngetem di bahu jalan, beberapa tukang becak juga terlihat melawan arus lalu lintas. Usai mengantar penumpang mereka terlihat keluar dari gerbang Batik Trusmi dan melawan arah menuju ke depan Pasar Plered untuk kembali ngetem. (E-2) 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya