Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
INSTITUT Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali resmi meluncurkan Platform Digital Krama Adat, sebuah inovasi berbasis web yang dirancang untuk meningkatkan transparansi iuran adat sekaligus memperkuat literasi digital masyarakat, Minggu (8/3). Peluncuran dilakukan di Desa Duku Pulu Kaja, Tabanan.
Selama ini pencatatan iuran adat masih dilakukan secara manual dengan buku tulis. Cara tradisional tersebut kerap menimbulkan kesalahan pencatatan dan berpotensi memunculkan ketidakpercayaan antarwarga.
Melalui sistem digital, pengurus banjar kini dapat mencatat pembayaran secara real-time, menyusun laporan otomatis, dan mengirim notifikasi digital kepada warga. Warga pun bisa memantau kewajiban mereka secara mandiri melalui portal yang mudah diakses, sehingga tercipta keteraturan dan transparansi.
Program pengabdian masyarakat ini dipimpin Indriyani, bersama tim dosen lintas disiplin dan mahasiswa. Selain menghadirkan platform, tim juga menggelar pelatihan literasi digital berbasis Learning Management System (LMS). Pelatihan ini bertujuan agar masyarakat terbiasa menggunakan teknologi tanpa meninggalkan nilai adat yang sudah mengakar. Dengan demikian, inovasi digital tetap selaras dengan kearifan lokal.
Kegiatan ini sekaligus mendukung kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), karena mahasiswa dilibatkan secara langsung di lapangan. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat.
Bendesa Adat Desa Duku Pulu Kaja, I Wayan Subrata, menyambut baik kehadiran platform ini. Ia menegaskan bahwa sistem digital akan membawa perubahan positif bagi tata kelola adat. “Selama ini warga sering bertanya-tanya soal iuran, apakah sudah tercatat dengan benar atau belum. Dengan adanya sistem digital ini, semua bisa dicek secara transparan. Kami berharap kepercayaan antarwarga semakin kuat dan tidak ada lagi keraguan,” ujarnya.
Lebih lanjut, I Wayan Subrata menambahkan bahwa inovasi ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga tentang menjaga keharmonisan sosial. “Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat kebersamaan. Kami tetap berpegang pada nilai adat, namun kini dengan cara yang lebih modern dan tertib,” katanya.
Dengan mengintegrasikan teknologi, pendidikan, dan hukum adat, ITB STIKOM Bali berharap program ini menjadi model pengabdian masyarakat berkelanjutan yang dapat direplikasi di desa adat lain di Bali. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved