SERGEI Further, pilot maskapai AMA asal Swiss, dahulu merupakan pilot Airbus. Gajinya besar dan biasa tinggal di hotel dengan fasilitas kelas satu. Namun, dua tahun lalu Sergei meninggalkan dunia gemerlapnya sebagai pilot Airbus dan memilih melayani masyarakat Papua melalui jalur penerbangan AMA. Sebagai pilot misi, Sergei tidak menikmati kemewahan sebagaimana saat ia menjadi pilot Airbus.
"Saya harus melayani, tidur pun kadang di pesawat. Makan seadanya, sesuai kondisi daerah yang kita datangi. Namun, inilah tantangannya. Papua ini luar biasa," ujar Sergei yang fasih berbahasa Indonesia. Diakuinya, cepatnya perubahan cuaca dan topografi merupakan tantangannya sebagai pilot. Ia diberi tanggung jawab menerbangkan pesawat dengan aman dan selamat sampai tujuan.
Meski memiliki jam terbang yang lumayan di negaranya, ia tetap belajar terbang di Papua. Ia pun tetap mengikuti pelatihan terbang di Papua. Bahkan meski pelatihnya memiliki jam terbang di bawahnya, Sergei tetap harus mengikuti aturan. "Saya harus mengikuti dulu pelatihan. Terbang bersama pilot yang sudah lebih dahulu. Nanti dites lagi, kalau sudah bisa mendarat sendiri baru bisa dibiarkan terbang," ungkapnya.
Pengalaman lain dikemukakan Daud Mongdong, 61, pilot senior yang sudah memiliki 19 ribu jam terbang di Papua. Ia pun sering mendampingi pilot asing yang suka berpetualangan dan senang dengan tantangan terbang di Papua. "Kalau mau menjadi pilot di Papua harus konsentrasi. Itu wajib. Jangan terlena melihat cuaca bagus atau pemandangan indah. Apalagi merasa gampang dengan alasan sering mendarat di suatu lapangan terbang. Yang saya selalu tekankan ialah di Papua cuaca selalu beda setiap saat. Ingat itu," pesan Daud.
Brian Potingger, pilot senior lainnya, sepakat dengan kedua rekannya. Menurutnya, setiap pilot di Papua dituntut untuk bisa mengambil keputusan yang tepat. Brian sudah 10 tahun menjadi pilot. Ia datang ke Papua memiliki alasan yang sama dengan Sergei, yakni melayani masyarakat di sana. "Di Papua, masyarakat mengandalkan penerbangan perintis sebagai transportasi utama. Masyarakat di Papua sangat baik, sopan, bersahabat, dan ramah," terangnya.
Menurutnya, apa pun yang terjadi, keselamatan di atas segalanya meski alat navigasi minim. Di Papua, ada kegiatan rutin yang dilakukan para pilot, yakni mereka selalu bertemu sepekan sekali untuk saling memberi masukan, evaluasi, dan menjalin kebersamaan. Seorang pilot dibatasi hanya terbang 6 jam sehari, 30 jam dalam sebulan, dan 110 jam untuk satu tahun.
Selain masalah keselamatan, persoalan tiket menjadi pemicu rawannya penyelundupan penumpang gelap. Tiket penerbangan di Papua sangat laris. Banyak orang mengantre untuk mendapatkannya. Maka mereka rela membeli dengan harga mahal asalkan mendapatkan kursi pesawat. Tidak dapat dimungkiri, hal itu memicu suburnya calo di bandara. Di Bandara Sentani, misalnya, lebih banyak calo ketimbang loket penjualan tiket resmi.
Hal itu sering menimbulkan ketidakcocokan manifes dengan penumpang yang ada di dalam pesawat. "Di bandara susah mendapatkan tiket dengan alasan habis terjual. Padahal, pesawat yang kita tumpangi relatif kosong. Biasanya pesawat menerima subsidi atau kerja sama dengan salah satu pemerintah daerah," ujar Jakson Wally, penumpang pesawat perintis dari Jayapura.
Dia sering kali dipermainkan para calo. Jakson mencontohkan pernah mendapatkan tiket penerbangan terakhir, tetapi tidak lama kemudian ada petugas datang dan menawarkan penerbangan pertama dengan alasan pesawat pertama yang akan terbang justru tidak ada penumpangnya. Sementara itu, di loket penjualan resmi, petugas selalu mengatakan tiket habis terjual.
Manajer Trigana Air Service Area Papua Bustomi Eka Prayitno tak menampik adanya praktik demikian. Bahkan, saat peristiwa nahas jatuhnya pesawat Trigana di Pegunungan Bintang, terdapat 10 nama penumpang yang tak sesuai dengan manifes.
"Penertiban calo jadi komitmen kami saat ini. Apabila nama tidak sesuai, kami tolak mereka naik pesawat. Sekarang Trigana ketat. Silakan kalau mau ribut tetap kita tolak. Ini demi keamanan dan keselamatan. Karyawan yang terlibat tetap kena sanksi PHK. Kami sekarang tegas. Internal dulu kami selesaikan, baru bisa edukasi keluar pada penumpang," tegasnya.